Peningkatkan Kualitas Berbahasa Arab Dan Keberhasilan Mahasiswa
Jurusan PBA Dalam Mengimplikasikannya di Masyarakat
Nedya Varchati
IAIN
Tulungagung
e-mail : siffa.khanza@gmail.com
Abstrak
Salah satu faktor kualitas seseorang adalah upayanya dalam
berbahasa yang baik dan benar. Perkembangan ilmu pengetahuan akan baik dan
menyeluruh jika penguasaan bahasa mumpuni. Fasilitas perguruan tinggi yang
menyediakan jurusan bahasa Arab dengan tujuan memberikan kemudahan dan jalan
untuk mempelajari bahasa Arab yang termasuk bahasa tertua di dunia ini. Dalam
mengimplikasikannya di masyarakat harus melalui metode dan praktek yang benar
agar tidak terjadi salah pandang terhadap bahasa Arab yang dikenal dengan
segala bentuk kesulitan-kesulitannya. Banyak faktor yang mempengaruhi
keberhasilan belajar bahasa Arab diantaranya melalui pendekatan internal,
eksternal dan pendekatan belajar yang khusus. Keberhasilan suatu proses belajar
mengajar pada umumnya ‘juga proses belajar mengajar bahasa Arab’ sangat
dipengaruhi oleh tiga faktor tersebut. Karena ketiga faktor itu saling
mempengaruhi dan saling berkaitan satu
sama lain dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar secara maksimal.
Kata kunci : bahasa Arab, jurusan PBA, kualitas berbahasa, metode
pembelajaran bahasa
Pendahuluan
Kualitas
seseorang dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari intelegensinya sampai adab
sopan santun yang ia miliki. Tak lepas dari itu semua, di era dewasa ini
seseorang dituntut dalam hal kemampuan berbahasa yang akan menentukan bagaimana
kualitas dirinya. Sebagai umat muslim setidaknya kita mampu berbahasa Arab.
Mengapa? Karena dalam penguasaan berbahasa Arab akan memudahkan seseorang dalam
memahami alquran yang menggunakan bahasa Arab, selain itu banyak kitab-kitab
berbahasa Arab yang didalamnya terdapat berbagai ilmu baru yang mungkin tidak
akan ditemukan di buku lainnya. berbahasa asing sangat urgent di era yang serba
canggih ini, dengan pandai berbahasa Arab seseorang bisa dengan leluasa
mempelajari berbagai ilmu baru.
Sebelum
melangkah lebih jauh, mari kita bahas tentang apa itu bahasa arab. Pendidikan,
seperti halnya lembaga-lembaga penting lainnya seperti agama, hukum, politik,
perdagangan dan bisnis adalah produk dari bahasa dan bergantung pada bahasa.
Hal ini karena pendidikan melibatkan komunikasi, interpretasi, analisis,
sintesis, internalisasi, dan aplikasi konsep-konsep, ide-ide sekaligus
merefleksikan realitas, yang kesemuanya itu memerlukan peranan bahasa.[1]
Secara historis,
bahasa Arab sudah ada lama sebelum datangnya islam. Setelah islam datang
eksistensi bahasa Arab semakin berada pada posisi yang sangat penting. Selama
zaman keemasan peradaban Islam, bahasa Arab merupakan bahasa perantara di
wilayah kekuasaan Islam yang luas dan bahasa universal ilmiah. Para pakar
muslim yang berasal dari bangsa non-Arab seperti sejarawan dan teolog al-Tabari
(w.923), filosof dan dokter Ibnu Sina (w.1037), dan astronom dan ilmuwan
ensiklopedik al-Biruni (w.1048) menulis karya-karya mereka dengan bahasa Arab.[2]
Sebagai bahasa
yang sudah tua dan tetap digunakan sampai saat ini, wajar bila bahasa Arab
memiliki kosa kata dan perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para
ahli bahasa Arab menuturkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang sangat
menakjubkan. Seperti kata unta dalam bahasa Indonesia hanya ada satu
padanannya, ternyata punya 800 padanan kata dalam bahasa Arab yang kesemuanya
itu mengacu pada satu hewan. Fenomena seperti ini tidak akan pernah ada dalam
bahasa lain di dunia ini dan hanyaada dalam bahasa Arab. Jadi wajar bila Allah
memilih bahasa Arab sebagai bahasa al-quran.[3]
Untuk mempelajari
bahasa Arab diperlukan pemahaman secara teoritis hirarkhis terhadap empat
kemampuan berbahasa. Dalam bahasa Arab empat kemampuan berbahasa tersebut
adalah istima’ (mendengar), kalam (berbicara), qira’ah
(membaca), dan kitabah (menulis).[4]
Bahasa Arab adalah bahasa utama kelompok bahasa Semit, yang oleh sementara
orang dianggap sebagai bahasa sejarah tertua. Bahasa-bahasa Semit yang terdiri
dari bahasa Suryani, Ibrani, Phoenisia, Aramaic, Arab, Mahr-Ssocotri, dan
Etiopia. Diantara bahasa-bahasa tersebut, hanya di dalam bahasa Arablah seluruh
gambaran mengenai bahasa Semit ini terjaga secara tepat.[5]
Pendekatan Pengajaran Bahasa (Language Improvement)
Improvisasi ( Ing. Improvement) memiliki makna mengembangkan
sesuatu ke arah yang lebih baik dan pembuatan sesuatu berdasarkan bahan yang
ada. Pendekatan dalam hal ini adalah pendekatan yang digunakan untuk
mengembangkan kemampuan berbahasa yang lebih baik.
Pada umumnya
kemampuan berbahasa seseorang itu diperoleh dan dapat berkembang melalui proses
belajar atau melalui intensitas komunikasinya dengan lingkungan sekitar. Oleh
karena itu pendekatan dalam hal ini diorientasikan pada pendekatan yang
digunakan dalam mengembangkan potensi dasar berbahasa seseorang dalam proses
pengajaran atau dalam proses belajar.
Pengajaran bahasa
akhir-akhir ini diwarnai oleh dua pendekatan yang dianggap sebagai pendekatan
utama, yaitu pendekatan atau aliran mekanis dan rasionalis.
Pendekatan aliran mekanis mempunyai sebutan lain yaitu aliran empiris, aliran
struktural atau aliran behavioris. Berkenaan dengan pengajaran bahasa, aliran
ini berasumsi bahwa:
a.
Bahasa adalah ujaran, bukan tulisan.
b.
Bahasa adalah rangkaian
kebiasaan.
c.
Ajarkanlah bahasa, bukan tentang bahasa.
d.
Bahasa adalah sebagaimana yang digunakan oleh penutur pribuminya,
bukan seperti apa yang oleh seseorang dipandang seharusnya.
e.
Tidak ada satu bahasapun yang berproses sama dengan bahasa lainnya.
Asumsi diatas
telah melahirkan berbagai metode pengajaran bahasa seperti metode aural-oral, metode
mimikri memorisasi dan sebagainya. Adapun pendekatan rasionalis memiliki
asumsi:
a.
Manusialah yang satu-satunya yang dapat belajar bahasa.
b.
Bahasa yang hidup adalah bahasa yang dapat digunakan dalam
berfikir.
c.
Bahasa yang hidup ditandai oleh kreativitas yang dituntun oleh
aturan-aturan tata bahasa.
d.
Aturan-aturan tata bahasa itu nyata bertalian dengan tingkah laku
kejiwaan.
Denagn
pendekatan ini muncul metode verbal nal
aktif yang
merupakan perbaikan dari metode langsung. Kaum rasionalis berpendapat bahwa bahasa
itu harus dipelajari, dan setiap orang memiliki kemampuan belajar bahasa yang
dibawanya sejak lahir. Dalam belajar bahasa siswa harus diaktifkan. Kemempuan
para siswa tidak hanya terbatas pada pemakaian kalimat-kalimat yang sering
digunakan, tetapi ia dapat saja menciptakan kalimat-kalimat baru yang belum
pernah digunakan orang sebelumnya, namun masih tetap dalam batas-batas
ketatabahasaannya.[6]
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar Bahasa Arab
Tidak jarang bahwa
proses belajar mengajar seringkali mengalami problem, masalah, dan kendala. Hal
ini jelas dapat dilihat pada hasil sebuah proses belajar mengajar di kelas
tertentu tidak sama dengan hasil yang dicapai oleh kelas yang lain, meskipun
yang mengajar adalah guru yang sama. Secara umum faktor yang mempengaruhi
keberhasilan belajar dibedakan menjadi tiga, yaitu internal,eksternal, dan
faktor pendekatan belajar.
1.
Faktor internal
Adalah
faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar yang berasal dari dalam diri
individu yang belajar. Sebagai contohnya adalah keadaan jasmani dan rohani
pelajar.
2.
Faktor Eksternal
Adalah faktor
yang mempengaruhi keberhasilan belajar yang berasal dari luar diri individu.
Yakni lingkungan sosial dan nonsosial. Lingkungan sosial yang paling
berpengaruh terhadap belajar adalah orang tua dan keluarga. Sedangkan yang
termasuk dalam lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letak
geografisnya, rumah tempat tinggal, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu
yang digunakan belajar.
3.
Faktor pendekatan belajar (Approach to learning)
Menurut Reber,
salah satu asumsi penting yang mendasari hukum Jost (Jost Law) adalah
bahwa siswa yang lebih sering mempraktikan materi pelajaran akan lebih mudah
memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang
diketahui. Selanjutnya, berdasarkan asumsi hukum Jost itu, maka belajar dengan
kiat 5x3 adalah lebih baik daripada 3x5 walalupun hasil perkalian tersebut
sama. Maksudnya, mempelajari sebuah materi pelajaran dengan alokasi waktu tiga
jam perhari selama lima hari akan lebih efektif daripada mempelajari materi
tersebut dengan alokasi waktu lima jam sehari tetapi hanya selama tiga hari.
Perumpamaan pendekatan belajar dengan cara mencicil seperti contoh di atas
sampai saat ini dipandang cukup berhasil guna terutama materi-materi yang
bersifat hafalan.
Keberhasilan
suatu proses belajar mengajar pada umumnya ‘juga proses belajar mengajar bahasa
Arab’ sangat dipengaruhi oleh tiga faktor tersebut. Karena ketiga faktor itu
saling mempengaruhi dan saling berkaitan
satu sama lain dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar sevara
maksimal.[7]
Metode Pengajaran Bahasa Arab Oleh Mahasiswa Jurusan PBA(Calon Guru
Bahasa Arab)
Ada kesan sementara bahwa belajar bahasa Arab sangat sulit, sukar,
dan ruwet sehingga memusingkan kepala sebenarnay tidak perlu terjadi manakala
pengajaran bahasa Arab disajikan secara metodologis. Pengajaran bahasa Arab
secara tradisional yang mengutamakan banyak hafalan – hafalan Qawa’id terutama
pada tingkat-tingkat pemula ternyata kurang banyak memberikan keuntungan bahkan
berakibat pengajaran bahasa Arab dipandang sukar, sulit dan sebagai momok.
Agar bahasa Arab
tidak pandang sulit, sukar, maka pengajaran perlu memperhatikan kaidah-kaidah
umum pengajaran bahasa Arab. Kaidah-kaidah tersebut antara lain:
1. Mengajarkan bahas aArab hendaknya dimulai dengan percakapan,
meskipun dengan kata-kata yang sederhana.
2. Usahakan
dalam mengajar bahasa Arab dengan
menggunakan alat peraga atau alat bantu.
3. mengajar
hendaklah dengan mementingkan kalimat yang mengandung pengertian dan makna.
4. Mengajarkan
bahasa Arab itu hendaklah mengaktifkan semua panca indera anak didik,
5. Pengajaran
bahasa Arab hendaklah menarik perhatian dan disesuaikan dengan taraf
perkembangan dan kemampuan anak didik.
6. Murid-murid banyak dilatih bicara, membaca, dan menulis.
Keenam kaidah
tersebut sesuai dengan apa yang terapat dalam kemampuan berbahasa. Yaitu
kemampuan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Untuk kemampuan menyimak
yang perlu diperhatikan adalah penggunaan bahasa sebagaimana yang digunakan
oleh penutur aslinya (native speaker).
Penutup
Semua permulaan
itu sulit. Namun ketika dilakukan dengan keikhlasan dan ketekuna semua akan
berjalan berjalan begitu mudah. Dalam meningkatkan kualitas berbahasa Arab khususnya
mahasiswa jurusan PBA, tentunya tidak akan lepas dari kesadaran diri untuk
merubah pola hidup yang praktis dan lebih bermanfaat guna mencapai tujuan yang
diinginkannya. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab
adalah bahasa tertua yang seyogyanya dipelajari dengan baik untuk meningkatkan
kualitas seseorang. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa Arab
yakni berasal dari diri sendiri terkait keadaan jasmani dan rohani lalu keadaan
lingkungan sekitar dan pendekatan dalam belajar. Dengan menggunakn metode yang
sesuai dan menurut kaidah yang berlaku maka tidak diragukan bila belajar bahas
arab itu mudah dan mengajarkannya adalah hal yang mnyenangkan.
Daftar Rujukan
Muhajir, As’aril, Psikologi Belajar Bahasa Arab. Jakarta: PT Bina
Ilmu, 2004
http://blog-rye.blogspot.com/2013/01/keunggulan-bahasa-arab.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar