Eksistensi Pendidikan Bahasa Arab
dan Problematika Pembelajarannya
Avit Khurbinarwah
1722143016
Tarbiyah,
Pendidikan Bahasa Arab
ABSTRACT
Bahasa arab merupakan bahasa asing yang memiliki
ciri khas yang tidak dimiliki oleh bahasa yang lainnya di dunia,dengan berbagai
kekhasannya bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang telah menyentuh
berbagai ranah di dunia. Selain sebagai bahasa media ajaran islam basaha Arab
telah berjasa dalam menjunjung tinggi sains dan teknologi,memperkaya khasanah
budaya nasional dan media perubahan politik internasional yang semakin
menampakkan peraannya. Sayangnya Indonesia belum melihat eksistensi bahasa Arab sebagai bahasa yang berkembang
dari masa ke masa.Sikap dan pandangan masyakarakat islam Indonesia yang pasif
tersebut menyebabkan pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di tanah air berjalan sangat lambat dan tidak
banyak mengalami perubahan yang mendasar.
Kata kunci :
eksistensi bahasa arab, peningkatan pembelajaran bahasa Arab,afektifitas
belajar bahasa arab.
Pendahuluan.
Walaupun dianggap sebagai bahasa asing oleh bangsa
Indonesia , bahasa Arab tidak asing di telinga mereka, terutama umat islam.
Bahasa Arab merupakan bahasa multidimensi yang digunakan oleh para cendikiawan
dalam memproduksi karya-karya besar di berbagai bidang ilmu seperti sejarah,
filsafat, matematika, fisika, sastra, dan lain-lain.Kalau saja umat islam dan
umat lainnya mau melihat sejarah masa lalu, saat spirit keilmuan di abad
pertengahan memuncak, tentu akan mengetahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa
yang pertama kali menjaga dan mengembangkan sains dan teknologi. Karena itu,
tidaklah berlebihan jika dikatakan bahasa Arab merupakan peletak dasar
pertumbuhan ilmu pengetahuan modern yang berkembang sampai saat ini.Oleh sebab
itu bahasa Arab harus diajarkan lebih serius lagi. Tapi sampai saat ini,
teori-teori pembelajaran bahasa Arab di Indonesia umumnya masih menggunakan
produk para ahli dari Timur Tengah. Hal ini selain karena Timur Tengah sebagai
pusat bahasa Arab dan pengajarannya, juga karena ada hal-hal yang harus merujuk
ke sana dalam pembelajarannya. Bahkan dalam beberapa hal, kita juga harus
bermakmum ke Barat. Namun demikian, pembelajaran bahasa Arab yang bercorak
keindonesiaan juga perlu dipertimbangkan mengingat adanya perbedaan mencolok
antara budaya Timur Tengah dan Indonesia. Jika pembelajaran bahasa Arab di
Indonesia secara baku “diwajibkan”menggunakan seluruh pendekatan yang berlaku
di Timur Tengah, sangat mungkin akan melahirkan masalah tersendiri. Masalah itu
terjadi, misalnya, karena sistematika pelajaran yang tidak situasional –
kontekstual, tidak menggambarkan lingkungan alam dan sosial budaya setempat
sehingga pelajaran yang disajikan kurang menarik dan tidak melekat kuat dalam
ingatan pelajar Indonesia. Bagaimanapun, bangsa Indonesia tetap bangsa
Indonesia, dengan berbagai karakteristiknya sulit untuk disamaratakan dengan
bangsa Timur Tengah.Selain itu, sering pula dijumpai bahwa buku-buku yang
digunakan bukanlah buku pelajaran bahasa Arab, melainkan buku-buku tentang
bahasa Arab. Akibatnya, bukan kemampuan bahasa Arab yang diperoleh melainkan
ilmu pengetahuan tentang bahasa Arab.
Isi
Banyak alasan
mengapa orang-orang non Arab mempelajari bahasa Arab, seperti disebutkan oleh
Thu’aimah (tt: 31-32), antara lainb: a) Motivasi agama terutama islam karena
bahasa kitab suci kaum muslimin berbahasa Arab menjadikan berbahasa Arab harus
dipelajari sebagai alat untuk memahami ajaran agama yang bersumber dari kitab
suci alquran; b) Orang non Arab akan merasa asing jika berkunjung ke Jazirah
Arabia yang biasanya menggunakan percakapan bahasa arab baik ‘amiyyah
maupun fussha jika tidak menguasai bahasa arab; c) Banyak karya-karya
ulama klasik bahkan hingga yang berkembang dewasa ini menggunakan bahasa Arab
dalam kajian-kajian tentang agama dan kehidupan keberagamaan kaum muslimin di
dunia. Sehingga, untuk menggali dan memahami hukum maupun ajaran-ajaran agama
yang ada di buku-buku klasik maupun modern, mutlak menggunakan bahasa Arab.
Pembelajaran
bahasa Arab dengan berbagai karakteristiknya serta motifasi mempelajarinya di
kalangan masyarakat non Arab, tetap saja memiliki banyak kendala dan problematika
yang dihadapi karena bahasa Arab tetap bukanlah bahasa yang mudah untuk
dikuasai secara total. Problematika yang biasanya muncul dalam pembelajaran
bahasa Arab bagi non Arab terbagi ke dalam dua bagian, problematika linguistik
dan non linguistik. Termasuk problem linguistik yaitu tata bunyi, kosakata,
tata kalimat dan tulisan. Sementara yang termasuk problem non linguistik yang
paling utama adalah problem yang menyangkut perbedaan sosiokultural masyarakat
arab dengan masyarakat non Arab.
Ada beberapa ragam
media pembelajaran yang bisa dimanfaatkan di Indonesia
1.
.
Media audio (al-wasa’il al-sam’iyyah)
Media audio adalah segala sesuatu
yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan pembelajaran bahasa yang dapat
ditangkap dan dicerna melalui indra pendengaran. Misalnya bahasa, tape
recorder, radio trasistor, televisi, labolatorium bahasa, dan sebagainya.
2.
Media visual (al-wasa’il al-bashariyyah)
Media visual adalah segala sesuatu
yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan proses pembelajaran bahasa yang dapat
ditangkap dan dicerna melalui indra penglihatan. Misalnya benda asli, benda
tiruan, gambar, dan sebagainya.
3.
Media audio-visual (al-wasa’il al-sama’iyyah al-bashariyyah)
Media audio-visual adalah segala
sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memudahkan pembelajaran bahasa yang dapat
ditangkap dan dicerna melalui indra pendengaran dan penglihatan. Misalnya video
CD, LCD projrctor, internet, dan sebagainya.
Pemanfaatan Teknologi Media Audio (al-wasa’il al-sami’iyyah)
Realitas menunjukan bahwa seseorang
yang telah lama mempelajari dan menggunakan bahasa ibu, kemahira yang lebih
dulu dan “nyaman” dipelajarinya adalah mendengar dan berbicara yang
ditindaklanjuti oleh kemahiran membaca dan menulis. Kondisi ini tampaknya
selaras dengan konsep dasar metode audioligual yang dikemukakan oleh al-Khuli,
(1982;23), yang menyatakan bahwa pembelajaran kemahiran berbahasa harus
berurutan dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Di antara sekian banyak media
pembelajaran audio yang telah dijelaskan di atas, penulis hanya akan
mencontohkan penggunaan radio transistor dan tape recorder.
1)
Radio transistor
Kini radio transistor sudah bukan
barang mewah lagi karena hampir setiap rumah memiliki pesawat radio. Atas dasar
itu, setiap program pengajaran dapat menjadikan dan memanfaatkan radio sebagai
salah satu media pembelajaran. Dan dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang
berminat untuk mengikuti pembelajaran melalui radio.
Dengan program pengajaran bahasa yang baik
radio memang memberi sumbangan yang sangat besar dalam kesuksesan pengajaran
bahasa. Kini, pengajaran bahasa melalui radio dapat dilakukan dalam bentuk
dialog-dialog atau talk-show secara langsung. Seiring dengan banyaknya
radio amatir yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dan perguruan tinggi,
serta siaran RRI di lembaga pendidikan , pemikiran dan anjuran untuk
mengajarkan bahasa arab melalui radio sudah sepatutnya mendapat dukungan dan
perhatian.
2)
Tape recorder
Tape recorder merupakan salah satu alat yang dipandang efektif membantu
pengajaran bahasa asing. Phonetic script yang merupakan penggambaran
dari bunyi-bunyi bahasa tidak begitu banyak artinya dibandingkan dengan bunyi
kata atau kalimat yang dihasilkan oleh tape recorder karena media ini
tidak hanya memberikan ucapan yang cermat-tepat, tetapi juga memberikan irama
dan intonasi yang sama dengan suara aslinya.
Tape recorder sebagai media latihan dapat dihasilkan beberapa kesimpulan,
sebagai berikut:
a.
Tape recorder
dapat digunakan untuk latihan mendengar dan mengulang. Bahan ajar yang direkam
harus berkaitan erat dengan pelajaran yang diajarkan atau teks pelajaran.
b.
Tape recorder
merupakan media yang cukup efektif bagi pengembangan latihan percakapan dan
dialog.
c.
Tape recorder
dapat digunakan untuk merekam percakapan, untuk selanjutnya diadakan menilaian
bersama setelah rekaman itu diputar secara berulang-ulang.
d.
Tape recorder
dapat digunakan untuk melatih pemahaman teks (fahm al-maqru’).
e.
Tidak hanya itu, tape recorder juga bisa dijadikan media
dikte.
Keberhasilan
proses belajar mengajar di kelas dapat dilihat dari sejauh mana penguasaan
kompetensi yang telah dikuasai oleh sejauh mana penguasaan kompetensi yang
telah dikuasai oleh seluruh pelajar(siswa) di kelas itu.Pada dasarnya hasil
belajar siswa dapat dinyatakan dalam tiga aspek, yang kognitif,afektif, dan
psikomotorik.
Penutupan
- Pendidikan Bahasa Arab seharusnya diajarkan lebih serius lagi di Indonesia agar bangsa kita mampu bersaing di dunia internasional mengingat eksistensi bahasa Arab yang semakin menampakkan perannya. Dan demi suksesnya pengajaran dalam bahasa Arab maka guru harus memiki kiat-kiat cara pengajaran yang aktif,kreatif dan inofatif.
Berikut ini
beberapa teknik alternatif yang dapat digunakan untuk pembelajaran yang
menantang dan menyenangkan bagi siswa dalam pembelajaran bahasa Arab , yaitu :
·
Menggubah syair lagu dan bernyanyi
·
Melakukan dan permainan
·
Bermain peran
·
Diskusi (bertanya, menjawab, berkomentar, mendengar
penjelasan, menyanggah)
·
Mengarang berdasarkan gambar
·
Menulis puisi
·
Membaca bermakna
·
Menyimak dan menangkap gagasan pokok
·
Teka – teki
·
Mengajukan pertanyaan penelitian
·
Menjawab dengan alasan logis
·
Mengomentari
·
Bercerita
·
Mendengar cerita
·
Mengamati persamaan dan perbedaan untuk mencari benda
·
Rangkuman dan sinopsis
·
Mendengar penjelasan sambil memcatat penting
·
Demonstrasi hasil penelitian
·
Membuat buku harian
·
Membuat soal cerita
·
Membuat kamus pribadi
·
Diagram atau charta
·
Membuat komik
·
Membuat grafik
·
Membuat jurnal
·
Menyiapkan dan melaksanakan pameran
Daftar Rujukan
Nur Sholeh dan
Ulin Nuha,2013. Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab. Jogyakarta:DIVA
Press
Acep
Hermansyah,2011. Metode Pembelajaran Bahasa Arab.Bandung:PT Remaja
Rosdakarya Offset