PELUANG KERJA UNTUK LULUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
Aldrian Umar Burhan*
|
S
|
alah satu persoalan di antara berbagai masalah yang diasumsikan
paling menggelisahkan mahasiswa adalah bagaimana jaminan kerja masa depan
setelah kuliah (link and macth). Jika persoalan ini tidak terpecahkan,
maka dampak buruk bukan hanya akan menimpa mahasiswa yang bersangkutan, tetapi
juga lembaga pendidikan yang menghasilkan output tersebut. Artinya, jika
lembaga pendidikan tidak mampu memberikan jaminan kerja bagi lulusannya, cepat
atau lambat, lembaga pendidikan itu akan ditinggalkan masyarakat dan akhirnya
gulung tikar.
Sementara itu, disisi yang lain ada sebuah
ungkapan bahwa pekerjaan itu banyak, tetapi sering kali hanya sedikit yang
mampu mengerjakan. Ungkapan ini memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya
pekerjaan itu banyak. Dimanapun kita berada dan bagaimanapun itu, pekerjaan itu
selalu ada asalkan kita mau untuk mengerjakannya. Sebanyak apapun pekerjaan
yang ada, jika kita tidak mau melakukannya maka sama halnya dengan tidak ada
pekerjaan. Hal inilah yang belum difahami secara utuh oleh para lulusan
perguruan tinggi.
Fakta menunjukkan bahwa sekolah-sekolah atau
perguruan tinggi yang mampu menghasilkan output yang mudah terserap oleh
lapangan kerja akan diminati oleh masyarakat. Contoh paling mudah adalah
fakultas-fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi. Meski biaya SPP
sangat tinggi tetapi fakultas kedokteran menjadi rebutan calon mahasiswa.
Bahkan di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta para calon mahasiswa
fakultas kedokteran rela mengeluarkan koceknya sebesar 200 juta rupiah hanya
untuk biaya sumbangan. Mengapa? Karena lulusan fakultas kedokteran lebih
menjanjikan masa depan yang lebih baik. Berbeda dari sekolah-sekolah atau
fakultas-fakultas di perguruan tinggi yang kurang memberikan jaminan kerja.
Meski biaya SPP murah, tetapi animo masyarakat tetap rendah. Kasus
fakultas-fakultas di lingkungan UIN Sunan Kalijaga dapat dijadikan ilustrasi.
Jumlah calon mahasiswa pendaftar di fakultas Ushuluddin dan Dakwah lebih
sedikit dibandingkan dengan fakultas Tarbiyah, Syariah, Sains dan Teknologi.
Mengapa? Lagi-lagi terkait dengan prospek kerja masa depan. Paling tidak,
menurut persepsi calon mahasiswa.
Memang, secara normatif ideal, belajar di suatu
lembaga pendidikan adalah bertujuan meningkatkan kualitas diri
(self-improvement), dan bukan sekadar mencari kerja. Namun, jaminan mendapatkan
pekerjaan sebagai penopang hidup masa depan pasca studi merupakan tuntutan dan
kebutuhan tak terelakkan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana
prospek peluang kerja bagi lulusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA)? Tulisan ini
mencoba memberikan gambaran peluang-peluang kerja yang mungkin dapat diakses
oleh para mahasiswa dan alumni Jurusan PBA.
Sebelum membahas peluang-peluang kerja bagi
lulusan Jurusan PBA, perlu dipahami lebih dahulu bagaimana profil output yang
didesain oleh Jurusan. Berdasarkan dokumen profil Jurusan PBA tahun 2007,
disebutkan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh Jurusan PBA adalah:
- Menghasilkan calon guru bahasa Arab dan tenaga kependidikan yang profesional dan memiliki keunggulan kompetitif.
- Menghasilkan sarjana di bidang bahasa Arab yang bisa memenuhi kualifikasi profesional sebagai peneliti di bidang bahasa Arab dan pendidikan Islam.
- Mencetak sarjana pendidikan Islam yang memiliki kualitas akademik tinggi sehingga bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan di atasnya.
- Membekali mahasiswa dengan kemampuan berbahasa Arab yang memungkinkan mereka berpeluang untuk bekerja sebagai pegawai di kantor KBRI, penerjemah, guide dan lain-lain.
Dari rumusan tujuan Jurusan PBA di atas dapat
disimpulkan bahwa profil lulusan Jurusan PBA yang ingin dicapai adalah lulusan
yang mampu menjadi guru bahasa Arab di berbagai lembaga pendidikan, terutama di
sekolah, madrasah, dan pesantren; Memiliki kompetensi komunikasi dalam bahasa
Arab -- baik reseptif maupun ekspresif sehingga dapat menjadi bekal kerja di
berbagai lapangan pekerjaan yang relevan; Memiliki daya nalar tinggi sebagai
sarjana; Dan memiliki kemampuan menjadi peneliti di bidang pendidikan Bahasa
Arab dan pendidikan Islam. Jika kompetensi lulusan tersebut dapat dicapai
secara optimal, maka sesungguhnya peluang kerja bagi para lulusan Jurusan PBA
dapat dikatakan cukup luas.
Berbicara mengenai peluang kerja bagi lulusan PBA,
pada bagian awal tulisan ini tertulis ungkapan yang berbunyi: ”Pekerjaan itu
banyak, tetapi sering kali hanya sedikit yang mampu mengerjakan”. Ungkapan itu
relevan dengan prinsip ilmu ekonomi yang menyatakan bahwa di mana ada masalah
atau problem di masyarakat, di situ terdapat peluang ekonomi bagi mereka yang
bisa memberikan solusi. Adanya orang sakit memberi peluang ekonomi bagi para
dokter dan rumah sakit.
Keluhan tentang sulitnya mendapatkan lapangan
pekerjaan bagi para lulusan perguruan tinggi sebenarnya tidak semata-mata
karena lapangan pekerjaan itu terbatas. Namun sesungguhnya, problem utamanya
adalah lebih pada kurangnya kemampuan atau kompetensi yang dimiliki calon
pencari kerja untuk mengisi lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, yang perlu lebih
mendapatkan perhatian adalah bagaimana institusi dan masing-masing pribadi
membekali diri dengan keterampilan-keterampilan handal yang dapat dipergunakan
untuk memecahkan berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Gde Prama,
seorang penulis buku yang sangat produktif menegaskan: ”Yang akan
menyelamatkanmu bukanlah pendidikan, tetapi keterampilan”. Oleh karena itu,
apabila lulusan Jurusan PBA benar-benar telah memiliki keterampilan memadai
sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, maka peluang kerja bagi mereka akan
terbuka luas.
Adapun beberapa peluang kerja yang dipandang
relevan dengan lulusan Jurusan PBA antara lain sebagai berikut.
Pertama, menjadi Guru Bahasa
Arab di Sekolah, Madrasah, dan Pesantren. Menjadi guru bahasa Arab bagi lulusan
Jurusan PBA merupakan profesi yang paling relevan mengingat tujuan utama
Jurusan PBA adalah menghasilkan guru-guru bahasa Arab. Peluang kerja pada
sektor ini dapat dikatakan cukup luas mengingat jumlah madrasah, pesantren, dan
sekolah di Indonesia cukup besar. Berdasarkan data yang ada, jumlah madrasah di
Indonesia secara keseluruhan, dari Ibtidaiyah sampai Aliyah mencapai 41.500.
Semua madrasah dapat dipastikan membutuhkan tenaga pendidik bahasa Arab.
Sedangkan jumlah sekolah dari tingkat SD s.d. SMA mencapai 178.000. Meskipun
tidak semua sekolah memiliki program pengajaran bahasa Arab, tetapi tidak
sedikit sekolah-sekolah yang memberikan pelajaran bahasa Arab, khususnya
sekolah-sekolah yang dikelola oleh yayasan Islam seperti Muhammadiyah dan NU.
Sementara itu pesantren yang jumlahnya juga ribuan dapat dipastikan juga
membutuhkan tenaga-tenaga pengajar bahasa Arab.
Kedua, menjadi penulis
buku-buku teks bahasa Arab dan buku-buku keagamaan yang memuat teks-teks Arab.
Tak dapat disangkal bahwa bisnis buku teks merupakan salah bisnis yang cukup
menjanjikan. Pengalaman sejumlah dosen Tarbiyah dan guru-guru agama dan bahasa
Arab di sekolah dan madrasah bekerjasama dengan sebuah penerbit menunjukkan
bahwa profesi penulis buku teks pelajaran cukup menggembirakan. Royalti yang
didapat para penulis dari penerbit ternyata cukup memberikan penghasilan yang
menggairahkan.
Selain buku teks, buku-buku keagamaan yang
ringan-ringan yang dibutuhkan oleh masyarakat dapat juga menjadi lahan bagi
alumni Jurusan PBA. Pengalaman seorang alumni Jurusan PBA yang menulis buku
”Kumpulan Hadis-hadis Sahih riwayat Buchari dan Muslim” ternyata buku tersebut
juga laris manis, dan yang bersangkutan mendapat royalti yang cukup signifikan
dari penerbit.
Ketiga, menjadi penerjemah
buku-buku berbahasa Arab. Jumlah penerbit di Indonesia dari tahun ke tahun
terus meningkat. Para penerbit senantiasa berlomba untuk mendapat naskah-naskah
terjemah dari buku asing. Jika satu halaman folio hasil terjemahan dihargai
10.000 rupiah, maka 100 halaman sudah dapat menghasilkan uang 1.000.000. Jika
hasil terjemah buku diterbitkan dan penulisnya mendapat royalti dari penerbit,
dan ternyata bukunya diterbitkan secara berulang-ulang, maka penghasilannya
dapat diterima secara rutin setiap bukunya diterbitkan ulang.
Keempat, menjadi guide
(pemandu wiasata) wisatawan asing dari Timur Tengah. Pada era globalisasi ini
dunia pariwisata makin berkembang. Para wisatawan datang dari berbagai negara,
termasuk dari negara-negara Timur Tengah. Meskipun wisatawan manca negara dari
Timur Tengah yang masuk Indonesia relatif masih kecil dibandingkan dengan
wisatawan dari negara-negara lainnya, terutama Barat dan Asia, tetapi mereka
tetap ada. Dinas pariwisata di berbagai kota di Indonesia sering kali
membutuhkan para pemandu wisata yang mampu berbahasa Arab. Dan ternyata sektor
ini dapat dikatakan masih langka.
Kelima, menjadi pegawai tetap
(PNS) di Kedutaan-kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk negara-negara
Timur Tengah. Tahun 2000 penulis pernah mendapat edaran yang dikeluarkan oleh
Departemen Luar Negeri Indonesia melalui email yang dikirim Atase Bidang
Pendidikan KBRI Damascus Syiria ke alamat e-mail penulis, bahwa Deplu
(Departemen Luar Negeri) membutuhkan 200 orang tenaga sarjana S-1 yang mampu
berbahasa Arab yang akan ditempatkan di KBRI di negara-negara Timur Tengah.
Sayangnya, setelah edaran itu penulis sebarkan di kalangan mahasiswa Fakultas
Tarbiyah, tidak ada satu mahasiswa atau alumni yang memanfaatkan kesempatan
tersebut.
Keenam, mendirikan lembaga
kursus bahasa Arab atau menjadi tutor atau instruktur Bahasa Arab dalam
berbagai kursus. Peluang kerja yang cukup menjanjikan jika ditangani secara
profesional adalah mendirikan lembaga kursus bahasa Arab atau menjadi tutor
bahasa Arab. Peluang itu terkait dengan makin banyaknya calon tenaga kerja yang
akan bekerja di Timur Tengah pada era global ini, terutama tenaga kerja
profesional. Tahun 1991 ada seorang dokter yang mengambil kursus bahasa Arab
dengan penulis selama satu bulan, karena ia akan bertugas di rumah sakit di Saudi
Arabia selama beberapa tahun. Pengalaman itu memberi inspirasi bahwa
sesungguhnya kursus bahasa Arab bagi para profesional yang akan bekerja di
negara-negara Timur Tengah merupakan peluang yang baik pula.
Ketujuh, menjadi pengelola
web-master pengajaran bahasa Arab on-line (Arabic On-line). Tak dapat disangkal
bahwa saat ini mulai muncul sekolah-sekolah favorit yang menggunakan e-learning
dalam program pengajarannya. Salah satu program e-learning itu adalah mengakses
internet dalam program Arabic On-line. Sampai sejauh ini, tampaknya
belum cukup banyak orang yang mampu menjadi web-master untuk program pengajaran
bahasa Arab On-line. Hal itu jelas menjadi peluang besar bagi para lulusan
Jurusan PBA.
Dari uraian di atas tampak jelas bahwa
sesungguhnya peluang kerja bagi para lulusan Jurusan PBA cukup besar.
Persoalannya, seberapa jauh kesiapan para alumni Jurusan PBA untuk dapat
mengisi peluang-peluang tersebut dengan didukung kompetensi yang memadai. Dan
yang lebih penting lagi adalah perlunya peningkatan kemampuan Jurusan PBA untuk
memfasilitasi para mahasiswa agar dapat melakukan self-improvement secara
kontinyu sehingga benar-benar menjadi alumni yang kapabel dalam bidang
pendidikan Bahasa Arab dan komunikasi dalam Bahasa Arab.
Nothing impossible. Tak ada yang tak
mungkin. Ungkapan ini senada dengan “Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
Jangan pernah berfikir bahwa lulusan PBA tidak mempunya tempat di kehidupan
social. Sungguh, jika kita mau menelusurinya maka banyak sekali peluang bagi
lulusan PBA untuk berkarya dan berkreasi, mengamalkan ilmu-ilmu yang telah
dipelajarinya semasa kuliah untuk hidup, agama, nusa dan bangsa.
*Penulis adalah
Mahasiswa Jurusan PBA
Institut Agama Islam
Negeri Tulungagung
Semester I
Tidak ada komentar:
Posting Komentar