Bahasa Arab Di Mata Dunia
Muhamad Rizzalul Hamami
Plejung_hamami@yahoo.co.id
IAIN TULUNGAGUNG
Abstrak
Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan
manusia. tanpa bahasa, maka akan banyak masalah yang akan dihadapi manusia.
Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi, maka semua yang berada di sekitar
manusia: peristiwa-peristiwa, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, hasil cipta
karya manusia dan sebagainya, mendapat tanggapan dalam pikiran manusia, disusun
dan diungkapkan kembali kepada orang-orang lain sebagai bahan komunikasi.
Adapun salah satunya adalah Bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa daerah
sekitar 150 juta orang di Asia Barat dan Afrika Utara. Bahasa ini merupakan
bahasa religius satu milyar Muslim di seluruh dunia, yang diucapkan dalam
ibadah sehari-hari seperti halnya ketika membaca Al-Qur’an maupun buku-buku
arab dan ketika Sholat. Semuanya itu menggunakan Bahasa Arab.Bahasa Arab terus
mempengaruhi masyarakat Muslim di berbagai tempat. Misalnya doktrin bahwa
al-Qur’an harus ditulis dan dibaca dalam bahasa aslinya (bahasa Arab). Untuk
itu, setiap orang yang ber agama Islam wajib mengerti tentang Bahasa Arab.
Kata Kunci : Bahasa, Bahasa Arab, Al-Qur’an.
Pendahuluan
Bahasa Arab merupakan kunci utama
untuk mengetahui pengetahuan dan kebudayaan Islam. Tanpa bahasa Arab ilmu
pengetahuan dan literatur Arab sulit untuk dipahami. Sudah ada yang menyebutkan
bahwa orang belajar bahasa Arab adalah supaya paham dan mengerti apa-apa yang
dibaca dalam shalat dengan pengertian yang mendalam. Secara rinci dinyatakan
bahwa untuk bisa sampai pada pengertian yang mendalam tersebut dimulai dengan
mengerti dulu membaca Quran sehingga dapat mengambil petunjuk dan pengajaran
dari Quran. Di samping itu dengan kemampuan berbahasa Arab diharapkan juga
dapat mempelajari ilmu agama Islam dalam buku-buku yang banyak dikarang dalam
bahasa Arab, seperti Ilmu Tafsir, Hadis, Fiqh dan sebagainya. Disebutkan juga
bahwa tujuan belajar bahasa Arab adalah agar pandai berbicara dan mengarang dalam bahasa Arab untuk berhubungan
dengan kaum muslimin di luar negeri, karena bahasa Arab adalah bahasa umat
Islam di seluruh dunia dan sudah menjadi bahasa ilmiah.
Pentingnya Bahasa Arab
Bahasa Arab mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan Muslim di
berbagai belahan dunia. Isma’il dan Lois Lamya al-Faruqi secara tepat
menggambarkan fenomena ini sebagai berikut:
Dewasa ini bahasa Arab
merupakan bahasa daerah sekitar 150 juta orang di Asia Barat dan Afrika Utara
yang merupakan dua puluh dua negara yang menjadi anggota Liga Negara-Negara
Arab. Di bawah pengaruh Islam, bahasa ini menentukan bahasa Persia, Turki,
Urdu, Melayu, Hausa dan Sawahili. Bahasa Arab menyumbang 40-60 persen kosakata
untuk bahasa-bahasa ini, dan kuat pengaruhnya pada tata bahasa, ilmu nahwu, dan
kesustraannya. Bahasa Arab merupakan bahasa religius satu milyar Muslim di
seluruh dunia, yang diucapkan dalam ibadah sehari-hari. Bahasa ini juga
merupakan bahasa hukum Islam, yang setidaknya dalam bidang status pribadi,
mendominasi kehidupan semua Muslim. Akhirnya inilah bahasa kebudayaan Islam
yang diajarkan di beribu-ribu sekolah di luar dunia Arab. Dari Sinegal sampai
Filipina, bahasa Arab dipakai sebagai bahasa pengajaran dan kesusastraan dan
pemikiran di bidang sejarah, etika, hukum dan fiqh, teologi, dan kajian kitab.[1]
Didukung dengan beberapa doktrin ajaran Islam, bahasa Arab terus
mempengaruhi masyarakat Muslim di berbagai tempat. Misalnya doktrin bahwa
al-Qur’an harus ditulis dan dibaca dalam bahasa aslinya (bahasa Arab).
Terjemahan al-Qur’an dipandang sebagai sesuatu di luar al-Qur’an itu sendiri.
Hal ini berbeda dengan Injil di mana ia justru harus diterjemahkan ke berbagai
bahasa tanpa menyertakan teks aslinya. Doktrin pendukung lainnya adalah
berbagai ucapan ritual ibadah hanya dianggap sah jika dilakukan dalam bahasa
Arab. Tak pelak doktrin-doktrin seperti ini telah memacu motivasi masyarakat
Muslim untuk mempelajari dan menguasai bahasa Arab sejak dini agar kelak menjadi
Muslim yang baik. Al-Qur’an bahkan tidak hanya dipelajari cara membacanya,
tetapi juga dihafalkan kata perkata secara utuh.
Bahasa sangat
erat kaitannya dengan kegiatan berpikir sehingga sistem bahasa yang berbeda
akan melahirkan pola pikir yang berbeda pula.[2] Oleh
karena itu pengaruh bahasa Arab pada berbagai bahasa masyarakat non Arab
berarti pula pengaruh dalam cara berpikir dan cara bersikap masyarakat Muslim
di seluruh dunia. Hal ini terlihat dari
kecenderungan masyarakat Muslim untuk memahami segala sesuatu yang Islami
(sesuai dengan Islam) dengan Arabi (sesuai dengan Arab). Menjadi Muslim yang
menyeluruh (kaffah) seringkali diekspresikan dengan menjadi orang Arab
dengan berbagai artibutnya seperti bergamis, bersorba, berjenggot, berjubah,
berjilbab, bernama Arab, bermusik padang pasir, dsb.
Sebagai konvensi, bahasa merupakan kesepakatan
sebuah masyarakat. Ia diwariskan secara turun-menurun oleh generasi pemakainya.
Demikian juga tradisi, pemikiran, keyakinan maupun ajaran agama yang disimbolkannya.
Melalui ajaran Islam, bahasa Arab secara tidak langsung terus mempengaruhi
masyarakat muslim dalam cara pandang, berpikir dan bersikap secara turun
temurun. Transformasi ini dilakukan secara sistematis di madrasah, pesantren
dan perguruan tinggi Islam melalui buku-buku berbahasa Arab yang menjadi
literatur utama.
Bahasa sebagai Simbol
Sebagaimana hakekat manusia yang terdiri dari dimensi lahir dan batin,
bahasa pun demikian halnya. Manusia disebut mahluk lahir karena ia memang
tampak, dapat dikenali dan diidentifikasi. Sebaliknya disebut makhluk batin,
karena apa yang tampak dari manusia hanyalah pencerminan belaka dari hakekat
dirinya yang tersembunyi (batin atau metafisik).[3]
Seperti juga hakekat kedirian manusia ini, bahasa manusia pun pada dasarnya
adalah simbol bagi dunia makna. Aliran mentalis mengatakan bahwa bahasa
merupakan ekspresi dari ide, perasaan dan keinginan[4]
Ferdinand De Saussure lebih jauh mengembangkan unsur makna dan kata
dalam bahasa melalui teori tentang konsep dan imajinasi suara (the concept
and the sound image). Kata pohon misalnya, terdiri dari imajinasi suara
kata "pohon" (signifier) dan konsep tentang pohon (signified).
Sistem simbolik bahasa disandarkan pada sistem kehidupan manusia. Karena itu
kosa-kata sebuah bahasa di samping mencerminkan kemampuan sebuah masyarakat
dalam mengekspresikan pengalaman hidupnya, juga secara umum mencerminkan
pengetahuan, pandangan hidup, keyakinan maupun pemikiran mereka. Bahasa Inggris
mencerminkan keseluruhan perkembangan politik, sosial dan sejarah budaya bangsa
Inggris.[5]
Demikian pula dengan bahasa Jawa. Pembagian kata menjadi tiga tingkatan
menunjukkan adanya budaya patriakal yang sangat kental pada masyarakat
penuturnya. Pembagian jenis kata pada rendah (ngoko), menengah (madyo) dan atas
(inggil) mengacu pada adanya strata sosial masyarakat dalam budaya Jawa.
Sebagaimana bahasa lainnya, bahasa Arab tersusun dalam sistem simbolik.
Kosa kata yang dipakai dalam bahasa adalah simbol bagi makna yang berada di
baliknya.[6] Ibarat kata adalah
sebuah badan, maka makna adalah ruhnya. Karena itu sebuah kata hanya akan
berfungsi sebagai simbol jika tidak dipisahkan dari konsep maknanya. Kosa kata
apapun tidak akan berfungsi sebagai sebuah simbol bagi seseorang yang tidak
mengetahui maknanya. Bahasa Arab yang dipakai al-Qur'an misalnya, tidak akan
berfungsi sebagai penyampai pesan-pesan ilahi bagi siapa pun yang tidak
mengerti bahasa Arab. Karena itu betapapun
tingginya nilai sastra al-Qur'an, berhadapan dengan mereka, al-Qur'an tidak
dapat menyampaikan satu pesan pun.
Sistem simbolik bahasa Arab yang disandarkan pada kehidupan masyarakat
Arab berarti pula bahwa bahasa Arab sangat berkaitan dengan pola kehidupan
masyarakat Arab. Pamakaian bahasa Arab oleh al-Qur'an menunjukkan bahwa simbol
bahasa al-Qur'an sangat terkait pada budaya bahasa Arab. Keterkaitan ini
terlihat jelas pada pemakaian kosa-kata bahasa Arab yang hanya dapat dipahami
dengan baik oleh masyarakat Arab. Lebih jauh lagi, keterkaitan bahasa al-Qur'an
dengan budaya Arab ditunjukkan dalam transformasi pesan-pesan ilahi melalui
budaya masyarakat Arab.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa Bahasa Arab
mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupanMuslim di berbagai belahan
dunia. Bahasa Arab merupakan bahasa daerah sekitar 150 juta orang di Asia Barat
dan Afrika Utara yang merupakan dua puluh dua negara yang menjadi anggota Liga
Negara-Negara Arab. Di bawah pengaruh Islam, bahasa ini menentukan bahasa
Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa dan Sawahili. Manusia disebut mahluk lahir
karena ia memang tampak, dapat dikenali dan diidentifikasi. Sebaliknya disebut makhluk batin, karena apa yang tampak dari manusia
hanyalah pencerminan belaka dari hakekat dirinya yang tersembunyi (batin atau
metafisik). Seperti juga hakekat kedirian manusia ini, bahasa manusia pun pada
dasarnya adalah simbol bagi dunia makna.bahasa Arab tersusun dalam sistem
simbolik. Kosa kata yang dipakai dalam bahasa adalah simbol bagi makna yang
berada di baliknya. Ibarat kata adalah sebuah badan, maka makna
adalah ruhnya. Karena itu sebuah kata hanya akan berfungsi sebagai simbol jika
tidak dipisahkan dari konsep maknanya.
DAFTAR PUSTAKA
Albert
C. Baugh dan Thomas Cable, A History of The English Language, Englewood
Cliffs: Prentice Hall Inc., 1978.
Al-Quzwaini,
Al-Idloh fi Ulum il-Balaghah, Beirut: Dar al-Jail, 1993.
Ismail R. Al-Faruqi dan
Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, penerjemah Ilyas Hasan,
Bandung: Mizan, 2003.
Jazeri
M.,M.Pd., Bahasa Indonesia untuk Karya Ilmiah, Tulungagung:Cahaya Abadi
2010
Leonard
Bloomfield, Language, London: George Allen and Unwin Ltd., 1970.
Masdar
Farid Mas'udi, Agama Keadilan, Jakarta: P3M, 1993.
Roger Trigg,
Understanding Social Science, Oxford: Basic Blackwell, 1985.
[1]Ismail R.
Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, penerjemah Ilyas
Hasan (Bandung: Mizan, 2003), h. 59.
[3] Masdar Farid Mas'udi, Agama Keadilan (Jakarta: P3M,
1993), h. 13-14.
[4]Leonard Bloomfield, Language (London: George Allen
and Unwin Ltd., 1970), h. 142.
[5]Albert C. Baugh dan Thomas Cable, A History of The
English Language (Englewood Cliffs: Prentice Hall Inc., 1978), h. 2.
[6]Al-Quzwaini, Al-Idloh fi Ulum il-Balaghah (Beirut:
Dar al-Jail, 1993), h. 149.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar