PEMAHAMAN GRAMATIKA BAHASA ARAB
Fifin Nur Khafidah
IAIN
Tulungagung
Email: fifinnurkhafidah@gmail.com
ABSTRACK
Artikel ini ditujukan untuk menjelaskan
pentingnya ilmu nahwu dan sharaf dalam pembelajaran
bahasa Arab, serta proses pendidikannya. Pendidikan di pesantren salaf menganut
kurikulum klasik, di mana seorang santri yang belajar di dalamnya hanya menguasaibahasa
pasif. Berbeda dengan pesantren modern yang lebih menekankan pada penguasaan
bahasa aktif. Namun, dalam masing-masing kurikulum memiliki kelebihan dan
kelemahan masing-masing. Dalam pesantren salaf, kemampuan penerjemahan
teks-teks Arab dan pemahaman ilmu agamanya lebih mendalam. Sedangkan dalam
pesantren modern hanya penguasaan bahasanya yang aktif, namun memiliki
kelemahan besar pada pemahaman teksnya.
Kata kunci: gramatika bahasa Arab, kurikulum bahasa
Arab, perbandingan kurikulum antara pesantren salaf dan pesantren modern
PENDAHULUAN
Bahasa Arab adalah salah satu bahasa yang diakui
oleh dunia internasional sebagai salah satu alat komunikasi dunia. Penyebaran
bahasa Arab di seluruh dunia hingga kini mempunyai signifikansi tersendiri bagi
perkembangan ilmu kebahasaan. Kuantitas umat Islam yang tersebar di seluruh
dunia juga turut mempengaruhi pola penyebaran bahasa Arab di berbagai belahan
masyarakat, utamanya di Eropa dan negara-negara dunia ketiga sekitar Asia.
Bahasa Arab jugasebagaibahasa
yang digunakandalam al-Qur’an danhadist. Sehingga wajib dipelajari bagi seorang muslim. Tanpa
mempelajari bahasa Arab, seorang muslim akan kesulitan untuk mengerti dan
memahami apa yang ada dalam al-Qur’an dan hadist tersebut.Yang mana al-Qur’an
dan hadist tersebut merupakan pedoman hidup bagi setiap muslim. Di dalam bahasa
Arab, kita tidak akan lepas dari ilmu
nahwu dan ilmu sharaf. Begitu pentingnya ilmu nahwu dan sharaf, membuat para
‘ulama memberikan julukan “Abul ‘ulum” yang artinya “ayahnya ilmu”
kepada ilmu nahwu dan “ummul ‘ulum” yang artinya “ibunya ilmu” pada
sharaf.
PEMBAHASAN
Bila dilihat dari perspektif gramatika, bahasa Arab
mempunyai dua sisi gramatika yang unik. Seseorang tidak akan memahami bahasa
ini dengan baik, manakala tidak menguasai keduanya.
Pertama,
kaidah ilmu nahwu. Ilmu ini mempelajari kaidah
bahasa Arab yang terkait dengan perubahan setiap huruf dan harakat pengucapan.
Dalam hal ini, terdapat perbedaan yang jelas antara bahasa Arab, bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tidak
ada perubahan huruf dalam kalimat, sementara dalam bahasa Arab, terjadi
perubahan jika ada huruf lain yang mempengaruhi perubahan tersebut. Di dalam
nominal, Bahasa Arab mempunyai tiga kategori pengelompokan. Sedangkan bahasa
Inggris dan bahasa Indonesia hanya mempunyai dua kategori pengelompokan saja.
Dalam bahasa arab terdapat mufrad (bentuk tunggal) tastniyah (bentuk
kedua) dan jama’ (bentuk jamak atau lebih dari dua). Sementara bahasa Inggris
hanya mempunyai singular (bentuk tunggal) dan plural (bentuk jamak).
Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadi dasar perubahan huruf dalam kalimat dan
menjadi kajian dalam gramatika ilmu nahwu.
Kedua,
kaidah ilmu sharaf. Kaidah ini berhubungan dengan perubahan
di dalam kalimat itu sendiri, utamanya berhubungan dengan kata kerja dan bentuk
waktu (tenses). Dalam bahasa Arab tidak ada penggolongan tenses sebanyak
bahasa Inggris. Bahasa arab hanya mengenal tiga bentuk waktu, yaitu: al-mustaqbal
(waktu di masa depan atau future), al-hal (waktu kini atau present),
dan al-madhi (waktu lampau atau past). Meski demikian, kerumitan
dalam bahasa Arab justru terletak dari perubahan di dalam kalimat yang
menunjukkan waktu tersebut.Karena pada perubahan tersebut, baik dalam huruf,
harakat maupun kalimatnya, mempengaruhi setiap makna atau arti yang terkandung
di dalamnya.
Orientasi Mempelajari Bahasa Arab
Indonesia merupakan negara yang mempunyai peminat
yang sangat tinggi dalam mendalami bahasa Arab. Di berbagai jalur pendidikan,
khususnya pendidikan agama, pelajaran bahasa Arab adalah suatu kewajiban.
Bahkan tidak jarang pelajaran ini dijadikan sebagai pelajaran unggulan untuk
menarik minat peserta didik (baik siswa maupun santri) untuk masuk ke sebuah
institusi pendidikan tertentu.
Dalam konteks yang lain, pengembangan kurikulum
bahasa Arab, tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan orientasi dan motivasi
pembelajarannya. Artinya bahwa kurikulum bahasa yang digunakan sangat mempengaruhi
karakter dan fokus dalam penguasaan kebahasaan. Selama ini, ada dua bentuk
penguasaan bahasa yang masing-masing bersumber dari bentuk kurikulum yang
berbeda. Di satu sisi, kajian bahasa Arab mempunyai fokus pada penguasaan pemahaman
dalam membaca teks (mafhum qira’ah). Dan di sisi lain, berfokus pada penguasaan
pemahaman dalam berbicara (mahfum kalam).
Sebenarnya pembelajaran bahasa Arab mempunyai empat
fokus penting yaitu: penguasaan menulis(mahfum kitabah), penguasaan
mendengar(mafhum sima’ah), penguasaan membaca(mafhum qira’ah) dan
penguasaan berbicara(mafhum kalam). Namun pada kenyataannya, jarang
sekali ditemui institusi pendidikan yang mampu mencetak lulusan dengan kecakapan
yang memenuhi keempat standarisasi tersebut.
Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab
Sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian sebelumnya,
kelemahan yang dialami oleh pendidikan bahasa Arab saat ini tidak dapat
dipisahkan dengan desain kurikulum yang terdapat di masing-masing institusi pendidikan.
Untuk itu, dalam sub bab ini akan dijelaskan lebih detail tentang bentuk-bentuk
kurikulum bahasa Arab, sebagai cara untuk mengetahui sejauh mana pencapaian
pendidikan bahasa Arab dalam mengimplementasi empat standarisasi kemampuan
kebahasaan.
Selama ini, pendidikan bahasa Arab lebih banyak
diberlakukan di pendidikan Islam, khususnya di dalam pendidikan pesantren. Jika
diidentifikasi lebih jauh, pada dasarnya kurikulum pendidikan bahasa Arab di
masing-masing pesantren tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan pesantren
secara keseluruhan.
Untuk itu, penulis akan mengidentifikasi terlebih
dahulu bagaimana model dan pola pendidikan pesantren yang selama ini ada.
Setidaknya ada dua kecenderungan model pendidikan dalam pesantren yang dapat
dijadikan pedoman rujukan. Pertama, pesantren bermodel salafiyah (tradisional)
dan pesantren bermodel modern. Keduanya, baik salafiyah maupun modern, pada
dasarnya mewarisi metode yang sama dengan pembagian metode individu dan metode
kelompok..
Kurikulum Bahasa Arab Model salaf (Tradisional)
Tidak berlebihan jika pesantren salaf merupakan acuan
bagi berkembangnya pesantren di Indonesia. Hal ini dikarenakan pesantren salaf
merupakan manifestasi dunia pesantren yang berusaha untuk tetap berada dalam
rel tujuan awal pendirianya, yakni sebagai lembaga syi’ar (dakwah) dan
pendidikan agama Islam. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, pesantren
salaf di awal perkembangannya hanya mengajarkan agama dengan sumber mata
pelajaran berupa kitab-kitab berbahasa Arab yang masuk dalam kategori mu’tabarah.
Pelajaran yang biasanya dikaji meliputi: Al Qur’an dengan tajwid dan tafsirnya,
hadits dengan musthalahnya, bahasa Arab dengan nahwu, sharf, balaghah, arudl,
dan mantiqnya, fiqih dengan hukum-hukum dan ushul fiqihnya, serta akhlaq dengan
warna tasawufnya. Kitab-kitab yang dipakai, pada umumnya juga terbatas pada
hasil karya ulama abad pertengahan (antra abad 12 – 15) yang kemudian lebih
dikenal dengan istilah kitab kuning.
Selain ilmu agama, bahasa Arab merupakan pelajaran
pokok yang harus diikuti dan dikuasai oleh para santri. Sebab, tingkat
penguasaan terhadap tata bahasa Arab seringkali dijadikan tolok ukur kualitas
seorang santri untuk mendapatkan predikat Kiai. Maka dari itu, tidak heran jika
kitab-kitab nahwu, (Jurumiyah, Mutamimah, Imrithi, serta Al-fiyah),
kitab-kitab sharaf (al Amstilah at Tashrifiyah, Qawa’id al I’lal, Kaelani),
serta kitab-kitab ilmu bahasa lainnya menjadi santapan keseharian di pesantren
salaf.
Selain sebagai standar kualitas determinasi tinggi
dalam mempelajari ilmu bahasa (nahwu dan sharaf) di kaangan santri salaf juga
disebabkan oleh berkembangnya jargon “As Sharfu Umm al Ulum wa al nahwu
abuuhu” (sharaf adalah ibunya ilmu dan nahwu adalah bapaknya).
Dalam tradisi salaf, penguasaan bahasa Arab tidak
diikuti dengan usaha aplikatif dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini
berakibat pada minimnya tingkat penguasaan santri terhadap mufradat bahasa
Arab.Sehingga tingkat ilmu bahasa yang dimilikinya hanya merupakan penguasaan
bahasa pasif, bukan bahasa aktif. Yakni, lebih mengutamakan penguasaan teks
dari pada prakteknya.
Singkatnya, ciri-ciri kurikulum bahasa Arab
tradisional adalah sebagai berikut:
a.
Lebih
memfokuskan pada penguasaan gramatika bahasa (nahwu dan sharf)
yang diimplemetasikan ke dalam bentuk pemahaman teks kitab-kitab kuning.
- Tidak mementingkan perkembangan perubahan kosakata baru (al mufrodaat al muta’akhirah)
- Tidak adanya praktek berbahasa (al muhadatsah) dalam percapakan sehari-hari.
- Mengandalkan kosakata dari perbendaharaan kitab-kitab klasik.
- Memfokuskan pada kedisiplinan makna teks, ketimbang pemahaman komunikasi (percakapan).
Dari penjabaran ciri-ciri tersebut, dapat diketahui
bahwa metode salaf mempunyai penguasaan bahasa pasif. Namun kelebihan dari ciri
metode ini adalah pada kemampuan penerjemahan teks-teks Arab, serta pemahaman
terhadap ilmu agama yang lebih mendalam. Karena proses analisis kebahasaannya
yang komprehensif.
Kurikulum Bahasa Arab Model Pesantren modern
Pesantren modern muncul sebagai usaha dunia
pesantren untuk mengakomodasi perubahan zaman dan arus modernisasi. Dengan kata
lain, pesantren modern muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap ortodoksi
paradigma pesantren salaf dalam menyikapi perubahan-perubahan yang ada, termasuk
respons terhadap penguasaan bahasa Arab yang pasif. Tetapi, sama halnya dengan
pesantren salaf, pesantren modern juga merupakan lembaga pendidikan yang
memiliki materi dan metode tersendiri dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dalam perkembangannya, pesantren modern lebih
identik dengan pesantren bahasa (dalam pengertian bahasa aktif). Dalam dunia
pesantren modern penguasaan bahasa (Arab dan Inggris) seringkali dijadikan
tujuan pendidikan dan standard kecerdasan dan keberhasilan seorang santri. Bagi
mereka, bahasa merupakan alat komunikasi yang harus dikuasai untuk dapat
bersaing dalam kehidupan modern. Sehingga bahasa harus dipakai,
dikomunikasikan, tanpa harus takut menyalahi kaidah-kaidahnya yang baku. Hal
ini didasarkan pada kaidah “al Lughah ma yuqaal wa laisa ma yanbaghi an
yuqaal” (Bahasa adalah apa yang diucapkan, bukan apa yang seharusnya
diucapkan).
Selain materi keagamaan, pesantren modern juga
sudah mengajarkan materi pelajaran umum dan kegiatan ekstra kurikuler. Dalam
hal ini, para santri memiliki kegiatan di luar jam pelajaran, seperti olah
raga, kesenian, keterampilan, pidato dalam tiga bahasa (Arab, Inggris,
Indonesia). Pramuka dan organisasi pelajar. Disinilah pesaren modern berusaha
mencari identitas, dengan merombak tatanan yang telah dianut secara konservatif
oleh sistem pesantren salaf.
Kemudian, dalam proses pembelajarannya, dengan
alasan efisiensi pengajaran, metode wetonan, sorogan yang dikenal di pesantren
salaf, oleh pesantren modern dimodernisasi dengan sistem klasikal
(penjenjangan) yang terpimpin secara terorganisasi, dengan waktu yang
ditetapkan dalam penyelenggaraan pendidikannya. Melalui sistem penjenjangan
kelas ini, ustadz/kiai diharapkan dapat berimprovisasi menentukan metode yang
paling cocok dalam mendidik santri, apakah itu ceramah, dialog, diskusi, muhadzarah,
ataukah lainnya. Fleksibilitas dalam penerapan metode ini diharapkan dapat
menghasilkan produk santri dalam jumlah besar, berkesinambungan dan bermutu,
dengan biaya dan waktu yang relatif singkat.
Dengan demikian, pesantren modern berusaha
menerapkan asas evaluasi secara jelas dan tegas dalam penyelenggaraan
pendidikan. Melalui sistem penjenjangan kelas ini, kualitas santri pada tiap
jenjangnya dapat dikontrol dengan baik. Selain itu, pesantren modern juga sudah
mulai mempertimbangkan waktu, strategi dan materi yang sejalan dengan
perkembangan zaman. Selain itu, pola hubungan antara kiai, santri dan ustadz
menjadi jelas batas-batas hak dan kewajibannya.
Adapu dari model pembelajaran pesantren modern ini,
dapat diketahui ciri-ciri kurikulum bahasa Arabnya, antara lain:
a.
Lebih
memfokuskan pada penguasaan kosakata (mufrodat) yang diimplemetasikan ke dalam
bentuk percakapan.
- Memfokuskan pada perkembangan perubahan kosakata baru (al mufrodaat al muta’akhirah)
- Mewajibkan adanya praktek berbahasa (al muhadatsah) dalam percapakan sehari-hari.
- Memfokuskan pada pemahaman komunikasi (percakapan), ketimbang kedisiplinan makna teks.
- Tidak terlalu mementingkan gramatika bahasa (nahwu dan sharf)
Dari ciri di atas, dapat dilihat bahwa kurikulum
bahasa Arab modern berbentuk penguasaan kebahasaan aktif, namun memiliki
kelemahan besar pada pemahaman teks (penerjemahan).
Kesimpulan
Dari uraian dinamika pembelajaran bahasa Arab dan
perbandingan model bahasa arab antara system tradisional dan modern dapat
disimpulkan bahwa:
- Kurikulum bahasa Arab tradisonal mempunyai kelebihan memahami teks dan penguasaan penerjemahan. Hal ini dipengaruhi oleh kedisiplinan untuk memegang gramatika (nahwu dan sharf) yang diimplementasikan ke dalam penerjemahan kitab-kitab klasik.
- Bahasa Arab dalam metode tradisional mempunyai kelemahan pada sisi praktek kebahasaan (komunikasi), atau dengan kata lain model ini membentuk pola kebahasaan pasif.
- Kurikulum bahasa Arab modern mempunyai kelebihan dalam hal percakapan, namun mempunyai kelemahan dalam memahami teks (penerjemahan).
Dalammembacaartikelini, hendaknyadisertaidenganmembacabuku-buku
yang berkaitan dengan pembahasan artikel ini.
Sehingga akan mempermudah pembaca dalam memahami semua pembahasan dalam artikel
ini. Ada pun kritik dan saran sangat diperlukan demi kesempurnaa artikel ini.
Daftar
Rujukan
Ali Ridho Muhammad.2000.Perkembangan Bahasa Arab
di Negara-Negara Dunia Ketiga.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Khairon
Bafadhil M.1987.Al Muqaddimah fi Ma’rifati Ilm Al Lughah.Pati: Cv. Rahmat
Ali Mudhafir M.1987.Al Mabadi’ fi ‘Ilm Al Lughah.Rembang:
Al Hikmah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar