Tantangan dan Prospek Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia.
M.Helmi.Abdillah
1722143053
IAIN Tulungagung
e-mail: michioaja@gmail.com
ABSTRACT
Dalam belajar berbahasa arab
membutuhkan kebiasaan, di dalam maupun di luar program study karena seperti
kita ketahui bahwasanya untuk bisa berbicara Bahasa Arab tidak lah semudah
dalam berbicara Bahasa Indonesia di karnakan banyak prespektif yang
mempengaruhi proses pembelajaran. Dalam artikel ini kita dapat mengetahui
tantangan apa sajakah yang hadir dlam proses pembelajaran Bahasa Arab di
indonesia.
PENDAHULUAN
Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan sejak
kapan studi bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Namun
jika dibandingkan dengan bahasa Inggris bahasa Arab kurang mendapatkan momentum
untuk berkembang sebagai sebuah disiplin ilmu.
Boleh jadi pernyataan sebagian besar orang bahwa bahasa Arab
itu sulit dipelajari dan dipahami tidak
seperti bahasa Inggris atau Mandarin. Tulisan ini mencoba memberikan pemikiran
ulang mengenai tantangan dan prospek studi dan pendidikan bahasa Arab di
Indonesia. Tantangan apa saja yang sesungguhnya dihadapi oleh para peminat
studi bahasa Arab di Indonesia.
A. Realitas dan Orientasi Pendidikan Bahasa Arab
Pendidikan bahasa Arab di Indonesia sudah diajarkan mulai dari TK hingga
perguruan tinggi. Secara teoritis, paling tidak ada empat orientasi pendidikan
bahasa Arab sebagai berikut:
Orientasi Religius, yaitu belajar bahasa Arab untuk
tujuan memahami dan memahamkan ajaran Islam.
Orientasi Akademik, yaitu belajar bahasa Arab untuk
tujuan memahami ilmu-ilmu dan keterampilan berbahasa Arab. Orientasi ini
cenderung menempatkan bahasa Arab sebagai disiplin ilmu atau obyek studi yang
harus dikuasai secara akademik. Orientasi ini identik dengan studi di Jurusan
Pendidikan bahasa Arab.
Orientasi Profesional/Praktis, yaitu belajar bahasa Arab untuk
kepentingan profesi, seperti mampu berkomunikasi lisan (muhâdatsah) dalam
bahasa Arab untuk bisa menjadi TKI, diplomat, turis, misi dagang, atau untuk
melanjutkan studi di salah satu negara Timur Tengah.
Orientasi Ideologis dan Ekonomis, yaitu belajar bahasa Arab untuk
memahami dan menggunaakan bahasa Arab sebagai media bagi kepentingan
orientalisme, kapitalisme, imperialism.
Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di Indonesia relatif sudah
tersebar di berbagai Universitas Islam. Hanya saja, disiplin keilmuan ini masih
tergolong “lemah”.
B. Tantangan Pendidikan Bahasa Arab
Bahasa Arab di negara-negara Timur Tengah, seperti: Arab
Saudi, Mesir, Syria, Iraq, Yordania, Qatar, Kuait, dapat dibedakan menjadi dua
ragam, yaitu Arab fushha dan Arab ’âmmyah. Keduanya digunakan dalam
realitas sosial dengan konteks dan nuansa yang berbeda. Bahasa Arab fushha
digunakan dalam forum resmi (kenegaraan, ilmiah, akademik, jurnalistik,
termasuk khutbah); sedangkan bahasa Arab ‘âmmiyah digunakan dalam komunikasi
tidak resmi, intrapersonal, dan dalam interaksi sosial di berbagai tempat
(rumah, pasar, kantor, bandara, dan sebagainya). Frekuensi dan tendensi
penggunaan bahasa Arab ‘âmmiyah tampaknya lebih sering dan lebih luas,
tidak hanya di kalangan masyarakat umum, melainkan juga kalangan
masyarakat terpelajar dan pejabat (jika mereka berkomunikasi dengan sesamanya).
Mereka baru menggunakan bahasa Arab fushha jika audien bukan dari kalangan
mereka saja.
Jika jumlah negara
Arab berjumlah 22 negera, berarti paling tidak ada 22 ragam bahasa ammiyah.
Kedua, realitas bahasa Arab dewasa ini juga dihadapkan pada
tantangan globalisasi, tepatnya tanganan pola hidup dan kolonialisasi Barat,
termasuk penyebarluasan bahasa Arab di dunia Islam. Kolonialisasi ini, jika
memang tidak sampai menggatikan bahasa Arab, minimal dapat mengurasi prevalensi
penggunaan minat belajar bahasa Arab di kalangan generasi muda.
Ketiga, derasnya gelombang pendangkalan akidah, akhlak, dan
penjauhan generasi muda Islam dari sumber-sumber ajaran Islam melalui
pencitraan buruk terhadap bahasa Arab.
Selain ada upaya penggantian huruf Arab dengan latin, bahasa
Arab pada lembaga pendidikan di dunia Islam juga mulai digeser meskipun belum
sampai digantikan oleh bahasa Inggris atau Perancis sebagai bahasa pengantar
untuk pembelajaran sains. Berbagai siaran langsung olah raga di dunia Arab,
terutama sepakbola, yang disiarkan dari Barat (liga Inggris, Spanyol, Italia,
Perancis, atau Belanda) sudah banyak menggunakan bahasa Inggris.
Semantara itu, di Indonesia, kita cenderung hanya
mempelajari bahasa Arab fushha, dengan rasionalitas bahwa bahasa Arab fushha
itu merupakan bahasa Al-Qur’an, karena tujuan utama studi bahasa Arab adalah
untuk kepentingan memahami sumber-sumber ajaran Islam.
Menurut saya, anggapan itu tidak sepenuhnya benar, karena
dalam kenyataannya, masyarakat Arab yang terpelajar pun tetap menggunakan dua
ragam bahasa Arab tersebut secara proporsional, sesuai dengan situasi dan
kondisi. Banyak para guru atau dosen di perguruan tinggi di Mesir, Arab Saudi,
Syria, dan lainnya tetap fasih berbahasa fushha, meskipun dalam pergaulan
keseharian dengan sesamanya lebih cenderung menggunakan ‘âmmiyah. Yang hendak ditegaskan
di sini adalah bahwa studi bahasa Arab diperguruan tinggi Islam di Indonesia
perlu dikembangkan tidak hanya berorientasi penguasaan bahasa Arab fushha
semata, melainkan juga bahasa Arab ‘âmmiyah perlu mendapat “ruang dan waktu”
(porsi), meski hanya sekedar pengenalan dialek.
Selain itu, studi bahasa Arab di lembaga pendidikan kita
juga mengalami ke tidak jelasan arah dan tujuannya. Hal ini, antara lain,
terlihat pada struktur program kurikulum PBA yang bermuatan beberapa mata
kuliah yang tampaknya tidak semuanya revelan dengan visi dan misi PBA.
Orientasi studi bahasa Arab pada lembaga pendidikan kita
tampak masih mendua dan setengah-setengah: antara orientasi kemahiran, dan
orientasi keilmuan. Jika orientasi pertama yang dipilih, maka idealnya 70% mata
kuliah di PBA bermuara pada pengembangan keterampilan: mendengar, berbicara,
membaca, menulis, dan menerjemahkan. Sisanya, 30% untuk pengayaan materi
keilmuan bahasa Arab, kefakultasan dan MKU (Mata Kuliah Umum/Universitas).
Tantangan lainnya yang juga tidak kalah pentingnya dalam
pengembangan pendidikan bahasa Arab adalah rendahnya minat dan motivasi belajar
serta kecenderungan sebagai pelajar atau mahasisiwa bahasa Arab untuk
“mengambil jalan yang serba instan” tanpa menulis proses ketekunan dan kesungguhan.
Hal ini terlihat dari karya-karya dalam bentuk makalah dan skripsi yang agaknya
cenderung merosot atau kurang berbobot mutunya. Mahasiswa yang sudah berada di
“dunia PBA” bahasa Arab seakan tidak betah dan ingin mencari “dunia lain”,
sehingga ini perlu disurvei dan dibuktikan secara akademis.
Sumber-sumber kebahasa araban di lembaga pendidikan kita
juga masih relatif kurang, jika tidak dikatakan terbatas
C. Pengembangan Epistemologi dan Kurikulum Bahasa Arab
Tantangan dan berbagai persoalan yang dihadapi pendidikan
bahasa Arab tidak mungkin dapat dipecahkan secara personal, tetapi harus
melalui pendekatan institusional dan melibatkan banyak pihak. Namun yang
mendesak untuk kita diskusikan secara lebih mendalam adalah pengembangan
epistemologi dan kurikulum bahasa Arab pada jurusan Pendidikan bahasa Arab.
Yang dimaksud dengan pengembangan epistemologi bahasa Arab adalah pengokohan
bangunan keilmuan bahasa Arab agar arah pengembangan pengkajian bahasa Arab
lebih dinamis. Dari bangunan epistemologi inilah, struktur keilmuan dapat
dikembangkan lebih jauh dalam kurikulum bahasa Arab. Berikut ini adalah
beberapa pokok pikiran mengenai model pengembangan epistemologi dan kurikulum
bahasa Arab.
Pertama, revitalisasi sinergi ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu
lain yang mempunyai kedekatan bidang kajian, sehingga terjadi proses “take and
give
Kedua, pengembangan cabang-cabang bahasa Arab menjadi ilmu
mandiri, seperti: ‘ilm al-tarjamah, ilm al-insyâ, ilm ushûl al-nahwi, ilm
al-Mu’jam (leksikografi) dan sebagainya, sehingga ilmu-ilmu ini tidak hanya
sekedar “suplemen”, tetapi menjadi ilmu yang lebih substantif, sistematis, dan
mendalam.
Ketiga, pembandingan, adaptasi, dan improvisasi ilmu bahasa
Arab dengan bahasa Inggris dan Perancis yang saat ini lebih maju dan modern.
Upaya ini sebetulnya sudah dilakukan, terutama dalam konteks pembagian
metodologi pembelajaran bahasa Arab. Namun tokoh-tokoh pengembangnya relatif
masih terbatas.
Keempat, revitalisasi pendasaran dan pengaitan pengembangan
penelitian bahasa Arab dengan “nuansa Islam” dan sumber utama ajaran Islam,
yaitu: al-Qur’an dan al-Sunnah.
Kelima, penguatan penelitian dan pendidikan bahasa Arab
melalui aplikasi dan improvisasi linguistik modern dan pengalaman positif di
bidang pembelajaran bahasa dari Barat dengan tetap mempertahankan kekhususan
atau karakteristik ilmu-ilmu bahasa Arab, baik fonologi, morfologi, sintaksis
maupun semantiknya.
D. Prospek Pendidikan Bahasa Arab
Setiap tantangan pasti memberikan peluang dan prospek jika
kita berusaha untuk menghadapi tantangan itu dengan berpikir positif dan
bersikap penuh kesungguhan dan kearifan, termasuk tantangan yang kini dihadapi
pendidikan bahasa Arab.
Pertama,peluang untuk pengembangan bahasa Arab semakin
terbuka, karena seseorang yang menguasai bahasa Arab dapat dipastikan
memiliki modal dasar untuk mendalami dan mengembangkan kajian Islam, atau
setidak-tidaknya mengembangkan studi ilmu-ilmu keislaman seperti: fiqh, tafsir,
hadits, sejarah Islam, filsafat Islam, dan sebagainya.
Kedua,pengembangan profesi keguruan, yaitu: menjadi tenaga
pengajar bahasa Arab yang profesional. Sebab yang mempunyai kompetensi dan
kewenangan akademik dan profesional di MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMU atau lembaga
pendidikan yang sederajat adalah lulusan Pendidikan Bahasa Arab.
Ketiga,penggiatan dan pembudayaan tradisi penelitian dan
pengembangan metodologi pembelajaran bahasa Arab. Hal ini perlu dilakukan agar
ilmu bahasa Arab dan metodologi pembelajarannya semakin berkembang dinamis dan
maju.
Keempat,intensifikasi penerjemahan karya-karya berbahasa
Arab, baik mengenai keilmuan dan keislaman ke dalam bahasa Indonesia dan/atau
sebaliknya. Profesi ini cukup menantang dan menjanjikan harapan, meskipun
penerjemah relatif belum mendapat apresiasi yang sewajarnya.
Kelima,intensifikasi akses dan kerjasama dengan pihak luar,
termasuk melalui Departemen Luar Negeri, agar “pos-pos” yang bernuansa atau
berbasis bahasa Arab dapat diisi oleh lulusan PBA, yang meminati karir di
bidang diplomasi dan politik. Jika program peminatan atau konsentrasi yang
terkait dengan bahasa Arab dapat dikembangkan, makna peluang untuk memperoleh
lapangan pekerjaan bagi alumni pendidikan bahasa Arab menjadi lebih terbuka dan
kompetetif.
Keenam, pengembangan media dan teknologi pembelajaran bahasa
Arab. Kita selama ini masih lemah atau belum mumpuni dalam menciptakan produk
media dan teknologi, sehingga proses pembelajaran bahasa Arab di lembaga kita
masih belum mendapat sentuhan “modernitas” yang bercirikan: mudah, cepat,
tepat, dan efektif. Karena itu, tenaga yang menekuni bidang ini perlu
dihasilkan atau dimiliki oleh Pendidikan Bahasa Arab.
Ketujuh, sudah saatnya Pendidikan Bahasa Arab melahirkan
karya-karya akademik (hasil-hasil penelitian, teori-teori baru, buku, media,
dan sebagainya) yang dapat memberikan pencerahan masyarakat. “Lahan” pemikiran
pendidikan bahasa Arab sejauh ini belum “tergarap” dengan baik, sehingga dalam
hal ini kita masih “miskin” produktivitas keilmuan.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwasannya Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di Indonesia relatif sudah
tersebar di berbagai Universitas Islam. Hanya saja, disiplin keilmuan ini masih
tergolong “lemah”. Selain itu, studi bahasa Arab di lembaga pendidikan kita
juga mengalami ke tidak jelasan arah dan tujuannya. Hal ini, antara lain,
terlihat pada struktur program kurikulum PBA yang bermuatan beberapa mata
kuliah yang tampaknya tidak semuanya revelan dengan visi dan misi PBA.
Tak lupa juga tentang tantangan yang
juga tidak kalah pentingnya dalam pengembangan pendidikan bahasa Arab adalah
rendahnya minat dan motivasi belajar serta kecenderungan sebagai pelajar atau
mahasisiwa bahasa Arab untuk “mengambil jalan yang serba instan” tanpa menulis
proses ketekunan dan kesungguhan. Hal ini terlihat dari karya-karya dalam bentuk makalah dan
skripsi yang agaknya cenderung merosot atau kurang berbobot mutunya. Mahasiswa
yang sudah berada di “dunia PBA” bahasa Arab seakan tidak betah dan ingin
mencari “dunia lain”, sehingga ini perlu disurvei dan dibuktikan secara
akademis.
DAFTAR RUJUKAN
Ansori imam ” Menuju kurikulum PSPBA yang kopententif di
Era Global” dalam dudung rahmad
hidayat dan yayan nurbayan ,seminar bahasa arab dan sastra islam
Mansur ibn shalih al-yusuf “al-lhugah al-arabiyah” di aksses dari
http://www.suhuf.net.sa/2000jaz/dec/10/ar8.htm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar