Senin, 05 Januari 2015

Artikel : Maratul Mufidah



Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia
Maratul Mufidah
(1722143056)
Tarbiyah, Pendidikan Bahasa Arab
IAIN Tulungagung


ABSTRACT
            Bahasa Arab merupakan bahasa yang telah masuk ke dunia pendidikan Indonesia. Namun, non-Arab seperti halnya Indonesia belum bisa mengusai bahasa Arab sebagaimana orang Arab menguasainya. Pembelajaran yang ada masih jauh dari apa yang menjadi target pendidikan. Hal ini dikarenakan adanya prespeksi bahwa bahasa Arab yang seharusnya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai agama islam dan alat komunikasi, kini hanya difungsikan sebagai agama islam saja. Sehingga Pembelajaran bahasa Arab belum sesuai dengan tuntutan kurikulum. Ada dua macam bahasa Arab yakni Arab fushha(bahasa resmi untuk orang Timur Tengah) dan  Arab ’âmmyah(bahasa yang sehari hari-hari digunakan). Sedangakan di Indonesia hanya mempelajari bahasa fushha karena bahasa tersebut adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.Sebuah doktrin bahwa bahasa Arab itu sulit dipelajari juga telah membawa mental pelajar ke keterpurukan.Oleh karena itu para pakar pendidikan mencetuskan metode-metode pembelajaran baru untuk menarik minat bangsa untuk belajar bahasa Arab dan berusaha menyamakan kurikulum dengan bahasa Arab di Timur Tengah. Hal ini  menggugah kesadaran bangsa agar terus berkarya dan berpikir kritis untuk pendidikan.

Kata Kunci : Pembelajaran bahasa Arab untuk non Arab seperti halnya Indonesia, kurikulum, metode pembelajaran

PENDAHULUAN
            Bahasa Arab adalah bahasa yang identik dengan dunia islam dan negara arab. Namun, dengan berkembangnya zaman Bahasa Arab bukan hanya menjadi sebuah bahan pembelajaran di negaranya, bahasa arab telah menjelajah ke pendidikan dunia. Bahkan di Indonesia pun bahasa Arab merupakan bahasa yang sering digunakan dalam lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis islam dan telah menyebar keseluruh tanah air. Pembelajaran bahasa Arab di Indonesia dimulai sejak masuknya Islam ke tanah air. Pembelajaran dimulai dari bahasa Arab sebagai bahasa Ibadah, dimana umat Islam melakukan ibadah dengan bacaan-bacaan yang berbahasa Arab, maka pem­belajaran bahasa Arab dimulai dengan pembelajaran membaca Al-Qur’an. Kemudian berkembang pada pembelajaran bahasa Arab untuk memahami teks-teks keagamaan dan kemudian bahasa sebagai media komunikasi yang diajarkan di berbagai lembaga pendidikan dari yang klasik hingga modern. Namun kini yang jadi petanyaan adalah  mampukah orang non arab seperti halnya orang indonesia mempelajari bahasa arab seperti halnya orang arab mempelajrinya? Dan mampukah orang non Arab menguasai bahasa Arab sebagaimana orang Arab? Sederetan  pertanyaan reflektif tersebu  menarik dikemukan karena selama ini kita sebagai pengkaji atau pendidik bahasa Arab tampaknya baru sekedar memposisikan bahasa Arab sebagai alat (wasîlah) –untuk memahami teks keislaman yang berbahasa Arab-- dan belum memfungsikannya sebagai sebuah disiplin ilmu yang perlu dikembangkan melalui berbagai penelitian dan pembacaan kembali secara kritis. Pandangan kita terhadap bahasa Arab selama ini boleh jadi juga “termakan” oleh pendapat ulama masa lalu bahwa bahasa Arab itu –utamanya nahwu dan sharaf—telah “matang dan terbakar”[1], dalam arti bahwa ilmu ini sudah sudah tidak mungkin  lagi dikembangkan dan diperbaharui.

Perbedaan Bahasa Arab antara Timur Tengah dan Indonesia
Bahasa Arab di negara-negara Timur Tengah, seperti: Arab Saudi, Mesir, Syria, Iraq, Yordania, Qatar, Kuait, dapat dibedakan menjadi dua ragam, yaitu Arab fushhdan  Arab ’âmmyah. Keduanya digunakan dalam realitas sosial dengan konteks dan nuansa yang berbeda. Bahasa Arab fushhadigunakan dalam forum resmi (kenegaraan, ilmiah, akademik, jurnalistik, termasuk khutbah); sedangkan bahasa Arab ‘âmmiyah digunakan dalam komunikasi tidak resmi, intrapersonal, dan dalam interaksi sosial di  berbagai tempat (rumah, pasar, kantor, bandara, dan sebagainya). Frekuensi dan tendensi penggunaan bahasa Arab  ‘âmmiyah tampaknya lebih sering dan lebih luas, tidak hanya di kalangan masyarakat  umum, melainkan juga kalangan masyarakat terpelajar dan pejabat (jika mereka berkomunikasi dengan sesamanya). Mereka baru menggunakan bahasa Arab fushhjika audien bukan dari kalangan mereka saja. Semantara itu, di Indonesia, kita cenderung hanya mempelajari bahasa Arab fushha, dengan rasionalitas bahwa bahasa Arab fushhitu merupakan bahasa Al-Qur’an dan Al-Sunnah, karena tujuan utama studi bahasa Arab adalah untuk kepentingan memahami sumber-sumber ajaran Islam.
Maka dari itu, studi bahasa Arab diperguruan tinggi Islam di Indonesia perlu dikembangkan tidak hanya berorientasi penguasaan bahasa Arab fushha semata, melainkan juga bahasa Arab ‘âmmiyah perlu mendapat “ruang dan waktu” (porsi), meski hanya sekedar pengenalan dialek, agar para mahasiswa juga mampu berkomunikasi secara alami dan efektif dengan penutur bahasa Arab dalam situasi formal maupun informal.Di kalangan bangsa Arab,terkadang juga kemampuan berbahasa fusha masih dianggap sulit dan membutuhkan proses belajar yang tidak sebentar.Bagi non Arab khususnya, ada beragam metode pembelajaran yang diterapkan untuk tujuan komunikasi. Namun, komunikasi tersebut masih terbatas pada komunikasi lisan, karena tidak semua orang memiliki kompetensi dalam menulis dengan bahasa pertama sehingga mempengaruhi kemampuannya dalam menulis dengan bahasa kedua. Terlebih dengan bahasa Arab yang memiliki sistem tulisan dari kanan ke kiri dan berupa struktur huruf-huruf hijaiyyah, ditambah uslub Arab yang memiliki pakem tersendiri yang berbeda rasa bahasa dan kaidahnya dengan bahasa lainnya.
Bagi pembelajar non Arab yang menguasaibaca tulis Al-Qur’an memang lebih mudah dalam belajar berbahasa Arabdibandingkan mereka yang belum menguasainya. Tetapi itu bukan jaminan karenadi beberapa fakultas di Universitas besar dunia, mahasiswa barat dapat menguasaiempat keterampilan berbahasa Arab yaitu menyimak, berbicara, membaca, danmenulis meskipun mereka tidak menguasai baca tulisAl-Qur’an. Sebaliknnya, di Indonesia yang mayoritas penduduknyadan menguasai baca tulis Al-Qur’an masih sulitberkomunikasi dengan penutur Arab asli . Makatidak menyoal muslim dan non muslim, selama pembelajaran bahasa Arab baginon Arab masih menemui kendala, dibutuhkan solusi untuk mengatasinya.Sayangnya tantangan juga melanda bahasa Arab itu sendiri. Pertama,akibat globalisasi, frekuensi penggunaan bahasafusha tergerus oleh penggunaan bahasaammiyahdan dialek lokal di kalangan masyarakat Arab. Kedua, akibatkoloniasasi Barat, bahasa Arab tidak lebih diminati dibandingkan bahasa Inggris,Perancis, Jerman, Mandarin, dan bahasa lainnya. Ketiga, akibat aruspendangkalan aqidah akhlak, dan penjauhan generasi Islam dari sumber-sumberajaran Islam, bahasa Arab mendapat citra negatif bahkan ada upaya penggantianhuruf Arab dengan latin.[2]

Metode Pembelajaran Bahasa Arab

Dengan prespeksi yang ada maka sudah bisa disimpulkan bahwa bahasa Arab di Indonesia belum mencapai target. Apalagi adanya sebuah doktrin bahwa belajar bahasa arab itu sulit dan  anggapan bahwa bahasa Arab hanya merupakan bagian dari pendidikan agama dan bukan bagian dari alat komunikasi. Jadi, tak diherankan jika hasil pembelajaran bahasa Arab di Indonesia masih jauh dari apa yang diharapkan.Bahkan mereka yang mempelajari bahasa Arab kadang tidak mengerti apa tujuan pembelajaran itu sendiri.Maka dari itu kali ini para pakar pendidikan mulai mengubah model pembelajaran di Indonesia menyerupai model pembelajaran bahasa Arab di negaranya.
Adapun model atau metode pembejaran bahasa Arab menurut pengamatan yang ada:
1.     Thariqah Al-Qawa’id wat Tarjamah
Metode ini mendorong pelajar bahasa untuk  menghafal teks-teks klasik berbahasa asing dan terjemahannya dalam bahasa pelajar.  Hal ini bertujuan agar mampu membaca karya sastra dalam bahasa target. Materi pelajaran terdiri atas: buku nahwu, kamus dan teks bacaan  serta menyajikan tata bahasa secara deduktif.Basis pembelajarannya adalah penghafalan kaidah tata bahasa dan kosa kata. Keunggulan dari  metode ini yaitu pelajar bahasa mendapatkan bekal kaidah bahasa yang dipelajari dan memahami sejumlah kosa kata. Dengan memahami kaidah bahasa yang diikuti oleh pemahaman terhadap kosa kata, praktek berbahasa dapat lebih mudah dilaksanakan.
2.     Thariqah Al-Mubasyirah
Metode belajar bahasa kedua atau  bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan menyimak dan berbicara, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian. Tujuan utamanya ialah penguasaan bahasa target secara lisan agar pelajar bisa berkomunikasi dalam bahasa target. Materi pelajaran berupa: buku teks yang berisi daftaar kosa kata dan penggunaannya dalam kalimat. Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif. Ketepatan pelafalan dan tatabahasa ditekankan. Kemudian, bahasa target digunakan sebagai bahasa pengantar secara ketat, dan penggunaan bahasa ibu pelajar sama sekali dielakkan. Metode ini memiliki keunggulan berupa (i) pelajar tidak perlu menghafal bahasa tertulis, (ii) ttidak verbalistis sebab pengajaran langsung dihubungkan dengan kenyataan, (iii) pelajar memperoleh kesempatan yang banyak untuk mempraktekkan bahasa, dan (iv) pelajar dapat memprakteekkan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.
3.     Thariqah Al-Qira’ah
Metode ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa pengajaran bahasa asingn tidak bisa bersifat multi-tujuan, dan bahwa kemampuan membaca adalah tujuan yang paling relistis ditinjau dari kebutuhan pembelajar bahasa asing. Tujuan utamanya adalah kemahiran membaca, yaitu agar pelajar mampu memahami teks ilmiah untuk keperluan studi mereka. Materi pelajaran berupa buku bacaan utama dengan suplemen daftar kosa kataa dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan, buku bacaan penunjang untuk perluasan, buku latihan mengarang terbimbing dan percakapan. Dalam metode ini membaca diam lebih diutamakan dari pada membaca keras. Kaidah-kaidah bahasa pun diterangkan seperlunya tidak boleh berkepanjangan. Keunggulan metode ini yaitu memotivasi pelajar agar selalu membaca. Dengan jalan membaca, kosa kataa dan pengetahuan bahasa pelajar bertambah.[3]
Dengan sistem pembelajaran yang telah dirancang sedemikian rupa, diharapkan bisa menunjang kualitas pembelajaran yang ada. Serta menghapus suatu kesan bahwa bahasa Arab itu sulit dipelajari.

Kesimpulan

Tantangan internal maupun eksternal pendidikan bahasa Arab harus kita jadikan sebagai peluang yang dapat memberikan prospek yang lebih cerah dan menjanjikan bagi peminat dan penggiat studi bahasa Arab di masa depan. Epistemologi keilmuan dan kurikulum perlu dibenahi dan diorientasikan kepada pembentukan kamahiran yang kompetitif di era global ini. Semua itu menuntut banyak pihak untuk bersinergi dalam menyatukan visi, misi, arah kebijakan dan pengembangan yang dilandasi oleh kajian akademik yang mendalam. Selama lembaga pendidikan Islam masih eksis, prospek pendidikan bahasa Arab tetap akan cerah dan menjadi daya tarik tersendiri.

Daftar Rujukan
http://www.academia.edu/7788044/Isu_Isu_Pembelajaran_Bahasa_Arab_Untuk_Non_Arab_Catatan_Lama_

http://ivanalfian80.wordpress.com/2013/01/28/beberapa-metodologi-pengajaran-bahasa-arab/






[1]Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 32.

[2]http://www.academia.edu/7788044/Isu-Isu_Pembelajaran_Bahasa_Arab_Untuk_Non_Arab_Catatan_Lama_
[3]http://ivanalfian80.wordpress.com/2013/01/28/beberapa-metodologi-pengajaran-bahasa-arab/

Tidak ada komentar: