Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia
Maratul Mufidah
(1722143056)
Tarbiyah, Pendidikan Bahasa Arab
IAIN Tulungagung
ABSTRACT
Bahasa Arab merupakan bahasa yang telah masuk ke dunia
pendidikan Indonesia. Namun, non-Arab
seperti halnya Indonesia belum bisa mengusai bahasa Arab sebagaimana orang Arab
menguasainya. Pembelajaran yang ada masih jauh dari apa yang menjadi target
pendidikan. Hal ini dikarenakan adanya prespeksi bahwa bahasa Arab yang
seharusnya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai agama islam dan alat komunikasi,
kini hanya difungsikan sebagai agama islam saja. Sehingga Pembelajaran bahasa
Arab belum sesuai dengan tuntutan kurikulum. Ada dua macam bahasa Arab yakni Arab fushha(bahasa resmi
untuk orang Timur Tengah) dan Arab ’âmmyah(bahasa yang sehari
hari-hari digunakan). Sedangakan di Indonesia hanya mempelajari bahasa
fushha karena bahasa tersebut adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Quran dan
As-Sunnah.Sebuah doktrin bahwa bahasa Arab itu sulit dipelajari juga telah
membawa mental pelajar ke keterpurukan.Oleh karena itu para pakar pendidikan
mencetuskan metode-metode pembelajaran baru untuk menarik minat bangsa untuk
belajar bahasa Arab dan berusaha menyamakan kurikulum dengan bahasa Arab di
Timur Tengah. Hal ini menggugah
kesadaran bangsa agar terus berkarya dan berpikir kritis untuk pendidikan.
Kata Kunci :
Pembelajaran bahasa Arab untuk non Arab seperti halnya Indonesia, kurikulum,
metode pembelajaran
PENDAHULUAN
Bahasa Arab adalah bahasa yang identik dengan dunia islam dan
negara arab. Namun, dengan berkembangnya zaman Bahasa Arab bukan hanya menjadi
sebuah bahan pembelajaran di negaranya, bahasa arab telah menjelajah ke
pendidikan dunia. Bahkan di Indonesia pun bahasa Arab merupakan bahasa yang
sering digunakan dalam lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis islam dan telah
menyebar keseluruh tanah air. Pembelajaran bahasa Arab di
Indonesia dimulai sejak masuknya Islam ke tanah air. Pembelajaran dimulai dari
bahasa Arab sebagai bahasa Ibadah, dimana umat Islam melakukan ibadah dengan
bacaan-bacaan yang berbahasa Arab, maka pembelajaran bahasa Arab dimulai
dengan pembelajaran membaca Al-Qur’an. Kemudian berkembang pada pembelajaran
bahasa Arab untuk memahami teks-teks keagamaan dan kemudian bahasa sebagai
media komunikasi yang diajarkan di berbagai lembaga pendidikan dari yang klasik
hingga modern. Namun kini yang jadi petanyaan adalah mampukah orang non arab seperti halnya orang
indonesia mempelajari bahasa arab seperti halnya orang arab mempelajrinya? Dan
mampukah orang non Arab menguasai bahasa Arab sebagaimana orang Arab? Sederetan pertanyaan reflektif tersebu menarik dikemukan karena selama ini kita
sebagai pengkaji atau pendidik bahasa Arab tampaknya baru sekedar memposisikan
bahasa Arab sebagai alat (wasîlah) –untuk memahami teks
keislaman yang berbahasa Arab-- dan belum memfungsikannya sebagai sebuah disiplin
ilmu yang perlu dikembangkan melalui berbagai penelitian dan pembacaan
kembali secara kritis. Pandangan kita terhadap bahasa Arab selama ini boleh
jadi juga “termakan” oleh pendapat ulama masa lalu bahwa bahasa Arab itu
–utamanya nahwu dan sharaf—telah “matang dan terbakar”[1],
dalam arti bahwa ilmu ini sudah sudah tidak mungkin lagi
dikembangkan dan diperbaharui.
Perbedaan
Bahasa Arab antara Timur Tengah dan Indonesia
Bahasa Arab di
negara-negara Timur Tengah, seperti: Arab Saudi, Mesir, Syria, Iraq, Yordania,
Qatar, Kuait, dapat dibedakan menjadi dua ragam, yaitu Arab fushha dan Arab
’âmmyah. Keduanya digunakan dalam realitas sosial dengan
konteks dan nuansa yang berbeda. Bahasa Arab fushhadigunakan
dalam forum resmi (kenegaraan, ilmiah, akademik, jurnalistik, termasuk khutbah);
sedangkan bahasa Arab ‘âmmiyah digunakan dalam komunikasi tidak
resmi, intrapersonal, dan dalam interaksi sosial di berbagai tempat
(rumah, pasar, kantor, bandara, dan sebagainya). Frekuensi dan tendensi
penggunaan bahasa Arab ‘âmmiyah tampaknya lebih sering
dan lebih luas, tidak hanya di kalangan masyarakat umum, melainkan
juga kalangan masyarakat terpelajar dan pejabat (jika mereka berkomunikasi
dengan sesamanya). Mereka baru menggunakan bahasa Arab fushha jika
audien bukan dari kalangan mereka saja. Semantara itu, di
Indonesia, kita cenderung hanya mempelajari bahasa Arab fushha, dengan
rasionalitas bahwa bahasa Arab fushha itu merupakan
bahasa Al-Qur’an dan Al-Sunnah, karena tujuan utama studi bahasa Arab adalah
untuk kepentingan memahami sumber-sumber ajaran Islam.
Maka dari itu, studi
bahasa Arab diperguruan tinggi Islam di Indonesia perlu dikembangkan tidak
hanya berorientasi penguasaan bahasa Arab fushha semata,
melainkan juga bahasa Arab ‘âmmiyah perlu mendapat “ruang dan
waktu” (porsi), meski hanya sekedar pengenalan dialek, agar para mahasiswa juga
mampu berkomunikasi secara alami dan efektif dengan penutur bahasa Arab dalam
situasi formal maupun informal.Di kalangan bangsa
Arab,terkadang juga kemampuan berbahasa fusha masih dianggap sulit dan
membutuhkan proses belajar yang tidak sebentar.Bagi non Arab khususnya,
ada beragam metode pembelajaran yang diterapkan untuk tujuan komunikasi. Namun,
komunikasi tersebut masih terbatas pada komunikasi lisan, karena tidak semua
orang memiliki kompetensi dalam menulis dengan bahasa pertama sehingga
mempengaruhi kemampuannya dalam menulis dengan bahasa kedua. Terlebih dengan
bahasa Arab yang memiliki sistem tulisan dari kanan ke kiri dan berupa
struktur huruf-huruf hijaiyyah, ditambah uslub Arab yang memiliki pakem
tersendiri yang berbeda rasa bahasa dan kaidahnya
dengan bahasa lainnya.
Bagi
pembelajar non Arab yang menguasaibaca tulis Al-Qur’an memang lebih
mudah dalam belajar berbahasa Arabdibandingkan mereka yang belum
menguasainya. Tetapi itu bukan jaminan karenadi beberapa fakultas
di Universitas besar dunia, mahasiswa barat dapat menguasaiempat
keterampilan berbahasa Arab yaitu menyimak,
berbicara, membaca, danmenulis meskipun mereka tidak menguasai baca
tulisAl-Qur’an. Sebaliknnya, di Indonesia yang
mayoritas penduduknyadan menguasai baca tulis Al-Qur’an
masih sulitberkomunikasi dengan penutur Arab asli . Makatidak menyoal muslim
dan non muslim, selama pembelajaran bahasa Arab baginon Arab masih menemui
kendala, dibutuhkan solusi untuk mengatasinya.Sayangnya tantangan juga
melanda bahasa Arab itu sendiri. Pertama,akibat globalisasi, frekuensi
penggunaan bahasafusha tergerus oleh penggunaan bahasaammiyahdan
dialek lokal di kalangan masyarakat Arab. Kedua, akibatkoloniasasi Barat,
bahasa Arab tidak lebih diminati dibandingkan bahasa Inggris,Perancis, Jerman,
Mandarin, dan bahasa lainnya. Ketiga, akibat aruspendangkalan aqidah akhlak,
dan penjauhan generasi Islam dari sumber-sumberajaran Islam, bahasa Arab
mendapat citra negatif bahkan ada upaya penggantianhuruf Arab dengan latin.[2]
Metode Pembelajaran Bahasa Arab
Dengan
prespeksi yang ada maka sudah bisa disimpulkan bahwa bahasa Arab di Indonesia
belum mencapai target. Apalagi adanya sebuah doktrin bahwa belajar bahasa arab itu sulit dan anggapan bahwa bahasa Arab hanya merupakan
bagian dari pendidikan agama dan bukan bagian dari alat komunikasi. Jadi, tak diherankan jika hasil pembelajaran bahasa Arab di
Indonesia masih jauh dari apa yang diharapkan.Bahkan
mereka yang mempelajari bahasa Arab kadang tidak mengerti apa tujuan
pembelajaran itu sendiri.Maka dari itu kali ini para pakar pendidikan mulai
mengubah model pembelajaran di Indonesia menyerupai model pembelajaran bahasa
Arab di negaranya.
Adapun
model atau metode pembejaran bahasa Arab menurut pengamatan yang ada:
1.
Thariqah
Al-Qawa’id wat Tarjamah
Metode
ini mendorong pelajar bahasa untuk menghafal teks-teks klasik berbahasa
asing dan terjemahannya dalam bahasa pelajar.
Hal ini bertujuan agar mampu membaca karya sastra dalam bahasa target.
Materi pelajaran terdiri atas: buku nahwu, kamus dan teks bacaan serta menyajikan tata bahasa secara
deduktif.Basis pembelajarannya adalah penghafalan kaidah tata bahasa dan kosa
kata. Keunggulan dari metode ini yaitu pelajar bahasa mendapatkan bekal
kaidah bahasa yang dipelajari dan memahami sejumlah kosa kata. Dengan memahami
kaidah bahasa yang diikuti oleh pemahaman terhadap kosa kata, praktek berbahasa
dapat lebih mudah dilaksanakan.
2.
Thariqah
Al-Mubasyirah
Metode
belajar bahasa kedua atau bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu,
yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi,
dan dengan menyimak dan berbicara, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan
kemudian. Tujuan utamanya ialah penguasaan bahasa target secara lisan agar
pelajar bisa berkomunikasi dalam bahasa target. Materi pelajaran berupa: buku
teks yang berisi daftaar kosa kata dan penggunaannya dalam kalimat.
Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif. Ketepatan pelafalan dan
tatabahasa ditekankan. Kemudian, bahasa target digunakan sebagai bahasa
pengantar secara ketat, dan penggunaan bahasa ibu pelajar sama sekali
dielakkan. Metode ini memiliki keunggulan berupa (i) pelajar tidak perlu
menghafal bahasa tertulis, (ii) ttidak verbalistis sebab pengajaran langsung
dihubungkan dengan kenyataan, (iii) pelajar memperoleh kesempatan yang banyak
untuk mempraktekkan bahasa, dan (iv) pelajar dapat memprakteekkan bahasa sesuai
dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.
3.
Thariqah
Al-Qira’ah
Metode
ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa pengajaran bahasa asingn tidak bisa
bersifat multi-tujuan, dan bahwa kemampuan membaca adalah tujuan yang paling
relistis ditinjau dari kebutuhan pembelajar bahasa asing. Tujuan utamanya
adalah kemahiran membaca, yaitu agar pelajar mampu memahami teks ilmiah untuk
keperluan studi mereka. Materi pelajaran berupa buku bacaan utama dengan
suplemen daftar kosa kataa dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan, buku bacaan penunjang
untuk perluasan, buku latihan mengarang terbimbing dan percakapan. Dalam metode
ini membaca diam lebih diutamakan dari pada membaca keras. Kaidah-kaidah bahasa
pun diterangkan seperlunya tidak boleh berkepanjangan. Keunggulan metode ini
yaitu memotivasi pelajar agar selalu membaca. Dengan jalan membaca, kosa kataa
dan pengetahuan bahasa pelajar bertambah.[3]
Dengan sistem pembelajaran yang
telah dirancang sedemikian rupa, diharapkan bisa menunjang kualitas pembelajaran
yang ada. Serta menghapus suatu kesan bahwa bahasa Arab itu sulit dipelajari.
Kesimpulan
Tantangan internal maupun
eksternal pendidikan bahasa Arab harus kita jadikan sebagai peluang yang dapat
memberikan prospek yang lebih cerah dan menjanjikan bagi peminat dan penggiat
studi bahasa Arab di masa depan. Epistemologi keilmuan dan kurikulum perlu
dibenahi dan diorientasikan kepada pembentukan kamahiran yang kompetitif di era
global ini. Semua itu menuntut banyak pihak untuk bersinergi dalam menyatukan
visi, misi, arah kebijakan dan pengembangan yang dilandasi oleh kajian akademik
yang mendalam. Selama lembaga pendidikan Islam masih eksis, prospek pendidikan
bahasa Arab tetap akan cerah dan menjadi daya tarik tersendiri.
Daftar
Rujukan
http://www.academia.edu/7788044/Isu_Isu_Pembelajaran_Bahasa_Arab_Untuk_Non_Arab_Catatan_Lama_
http://ivanalfian80.wordpress.com/2013/01/28/beberapa-metodologi-pengajaran-bahasa-arab/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar