Rabu, 19 November 2014

tugas resensi buku : Miftahatus Sa’diyah



Belajar Cepat Berpidato dengan Tiga Bahasa
Oleh : Miftahatus Sa’diyah
1722143058
PBA 1-A



Judul buku      : Pidato Tiga Bahasa
Penulis             : Umar Faruq, dkk.
Setting             : Khalista
Lay Out           : Pustaka Compugraphic
Design Grafic  : Kamsul Anam
Penerbit           : Pustaka Media, Surabaya
Cetakan           : 2. 2011
Tebal               : 153 Halaman
Bahasa Arab dan Inggris adalah bahasa dunia. Keduanya memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan warisan peradaban yang banyak. Hampir 2/3 penduduk dunia memakai dua bahasa internasional tersebut. Karena itu, tidak salah jika para cendekiawan mengatakan “Dengan menguasai bahasa Arab-Inggris, kita akan menguasai dua kehidupan dunia”.
Gejala kebahasaan itu kemudian ditangkap para peminat “pasar bahasa”, baik yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, politik, ekonomi dan bahkan penerbitan. Mereka mendirikan sekolah – sekolah bahasa, laboratorium bahasa, dan berbagai macam kegiatan kebahasaan, termasuk diantaranya pelatihan – pelatihan semacam lomba pidato bahasa asing. Bahkan, masyarakatpun menjadi “objek pasar” menunjukkan minat yang menggembirakan. Mereka cukup antusias belajar bahasa dan rajin mengikuti kegiatan – kegiatan kebahasaan.
Dalam rangka mengembangkan keterampilan berbahasa asing, Umar Faruq beserta ketiga kawannya mencoba menyuguhkan sebuah pembelajaran dalam bahasa asing, yakni sebuah pidato yang disajikan  dalam tiga bahasa sekaligus. Kehadiran buku ini diharapkan dapat membantu proses pembelajaran para pelajar, khusunya pelajar yang jurusannya bahasa asing, baik itu bahasa Arab maupun bahasa Inggris. Dalam buku yang terlihat tipis ini penulis memberikan wacana dengn 10 (sepuluh) tema, Tema – tema pidato yang termuat dalam buku tersebut sangatlah tidak asing bagi telinga kita. Jadi, wacana – wacana dalam buku ini tidaklah termasuk kategori pelatihan yang rumit. Namun, kita dapat memulai belajar berpidato dari tingkat dasar.
Pada bagian awal buku “Pidato Tiga Bahasa” ini berisikan tentang contoh naskah pidato pembawa acara, dimulai dengan bahasa Arab kemudian bahasa Inggris, dan yang terakhir menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan sangat mudah untuk dipahami. Baik dari susunan bahasanya, pemakaian kosakatanya, dan aturan penempatannya sangatlah sempurna.
Pada bab II penulis memberikan wacana tentang contoh sambutan ketua panitia dalam sebuah kegiatan. Selanjutnya ada beberapa pokok pembahasan yang sangat menarik, yakni pada bab III, IV, V dan bab VII. Pada bab ini penulis memaparkan contoh – contoh pidato yang sering digunakan ketika hari – hari besar Islam. Seperti : Fajar Islam, Peringatan Tahun Baru Islam, Peringatan Maulid Nabi, dan Isra’ Mi’raj. Makadari itu, buku ini wajib dpelajari oleh kaum muslim yang sedang belajar bahasa Arab.
Lain halnya pada pokok pembahasan bab selanjutnya, penulis menyuguhkan sebuah penekanan pada pembaca bahwa mempelajari bahasa Arab itu sangat penting. Ini tertuang pada contoh pidato bab VI tentang “Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab”. Ada beberapa paragraf yang perlu digaris bawahi dari isi pidato pada bab ini. Didalamnya dijelaskan bahwa setiap muslim wajib untuk mempelajari dan memahami bahasa Arab, sehingga mampu memahami pelajaran Islam dengan pemahaman yang baik. Orang muslim tidak akan mampu memahami hakikat ajaran agamanya dan mengetahui rahasia maknanya kecuali dengan bahasa Arab. Kata – kata dalam penutupan pidato ini berisikan tentang ajakan penulis pada seluruh umat muslim untuk bangkit dari keterpurukan, meyakini bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling hidup di dunia. Tidak ada bahasa yang lebih hidup melebihi bahasa Arab. Semenjak 14 abad yang silam, bahasa Arab sudah menjadi wadah sekaligus media kebudayaan Islam. Maka dari itu, kita semua dituntut untuk mampu menggunakan bahasa Arab mulai dari saat ini.
Menginjak pada bab selanjutnya, yakni bab VIII sampai dengan bab X, didalamnya terdapat pidato – pidato persuasive, yang isinya dapat mempengaruhi para pembaca. Pada bab VIII menjelaskan tentang “Awas Narkoba”. Pembaca diharapkan supaya berhati – hati dalam hal narkoba atau sejenisnya. Bab ke IX tentang “Masyarakat Islam”. Dalam isi pidatonya, pembaca  diajak untuk senantiasa berakhlak mulia, menghiasi diri dengan akhlak yang utama, akhlak yang luhur sesuai dengan ajaran Islam.
Bab terakhir pidato ini bertemakan tentang “Tanggung Jawab Pemuda terhadap Masyarakat”. Pada bagian terakhir ini merupakan tema yang sangatlah menarik bagi kita semua, khususnya pelajar – pelajar Islam. Disini disebutkan bahwa seorang pemuda merupakan jantung bagi masyarakat, penerus generasi masa depan. Maka pemuda haruslah bersikap jujur dan amanah. Di tangan pemuda lah kehidupan yang sejahtera ini akan tercipta. Kita harus aktif, kritis, dan produktif terhadap peristiwa – peristiwa yang ada di sekitar kita.
Disamping sepuluh pokok pembahasan diatas, penulis menambahkan beberapa kosakata yang dicantumkan pada halaman terakhir. Hal ini dimaksudkan agar pembaca lebih mudah dalam belajar berpidato menggunakan Tiga Bahasa. Buku ini sangat cocok untuk kita khususnya mahasiswa jurusan PBA dan TBI, karena kehadiran buku kecil ini dapat melatih kita untuk berbicara dengan bahasa Arab-Inggris.
Buku karya Umar Faruq dan kawan – kawannya ini menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, sehingga sangat mudah untuk dipahami para pembaca. Disamping banyaknya kelebihan – kelebihan yang dimiliki buku ini, buku ini juga terdapat kekurangan/kelemahan yang sangat menonjol. Yakni pada bagian percetakaan, seluruh halaman pada buku ini menggunakan kertas buram, sehingga pembaca seakan – akan kurang tertarik pada buku ini.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki buku ini, buku ini diterbitkan bagi siapapun yang ingin belajar berpidato dengan bahasa asing. Terutama kawula muda yang ingin menggali mutiara – mutiara pengetahuan dan melestarikan khazanah jawa yang sudah mulai tergeser dari porosnya.

Tidak ada komentar: