Belajar Cepat
Berpidato dengan Tiga Bahasa
Oleh :
Miftahatus Sa’diyah
1722143058
PBA 1-A
|
|
Judul
buku : Pidato Tiga Bahasa
Penulis : Umar Faruq, dkk.
Setting : Khalista
Lay
Out : Pustaka Compugraphic
Design
Grafic : Kamsul Anam
Penerbit : Pustaka Media, Surabaya
Cetakan : 2. 2011
Tebal : 153 Halaman
|
Gejala
kebahasaan itu kemudian ditangkap para peminat “pasar bahasa”, baik yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan, politik, ekonomi dan bahkan penerbitan.
Mereka mendirikan sekolah – sekolah bahasa, laboratorium bahasa, dan berbagai
macam kegiatan kebahasaan, termasuk diantaranya pelatihan – pelatihan semacam
lomba pidato bahasa asing. Bahkan, masyarakatpun menjadi “objek pasar” menunjukkan
minat yang menggembirakan. Mereka cukup antusias belajar bahasa dan rajin
mengikuti kegiatan – kegiatan kebahasaan.
Dalam rangka
mengembangkan keterampilan berbahasa asing, Umar Faruq beserta ketiga kawannya
mencoba menyuguhkan sebuah pembelajaran dalam bahasa asing, yakni sebuah pidato
yang disajikan dalam tiga bahasa
sekaligus. Kehadiran buku ini diharapkan dapat membantu proses pembelajaran
para pelajar, khusunya pelajar yang jurusannya bahasa asing, baik itu bahasa
Arab maupun bahasa Inggris. Dalam buku yang terlihat tipis ini penulis
memberikan wacana dengn 10 (sepuluh) tema, Tema – tema pidato yang
termuat dalam buku tersebut sangatlah tidak asing bagi telinga kita. Jadi,
wacana – wacana dalam buku ini tidaklah termasuk kategori pelatihan yang rumit.
Namun, kita dapat memulai belajar berpidato dari tingkat dasar.
Pada bagian
awal buku “Pidato Tiga Bahasa” ini berisikan tentang contoh naskah pidato
pembawa acara, dimulai dengan bahasa Arab kemudian bahasa Inggris, dan yang
terakhir menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan sangat mudah untuk
dipahami. Baik dari susunan bahasanya, pemakaian kosakatanya, dan aturan
penempatannya sangatlah sempurna.
Pada bab II
penulis memberikan wacana tentang contoh sambutan ketua panitia dalam sebuah
kegiatan. Selanjutnya ada beberapa pokok pembahasan yang sangat menarik, yakni
pada bab III, IV, V dan bab VII. Pada bab ini penulis memaparkan contoh –
contoh pidato yang sering digunakan ketika hari – hari besar Islam. Seperti :
Fajar Islam, Peringatan Tahun Baru Islam, Peringatan Maulid Nabi, dan Isra’
Mi’raj. Makadari itu, buku ini wajib dpelajari oleh kaum muslim yang sedang
belajar bahasa Arab.
Lain halnya
pada pokok pembahasan bab selanjutnya, penulis menyuguhkan sebuah penekanan pada
pembaca bahwa mempelajari bahasa Arab itu sangat penting. Ini tertuang pada
contoh pidato bab VI tentang “Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab”. Ada beberapa
paragraf yang perlu digaris bawahi dari isi pidato pada bab ini. Didalamnya
dijelaskan bahwa setiap muslim wajib untuk mempelajari dan memahami bahasa
Arab, sehingga mampu memahami pelajaran Islam dengan pemahaman yang baik. Orang
muslim tidak akan mampu memahami hakikat ajaran agamanya dan mengetahui rahasia
maknanya kecuali dengan bahasa Arab. Kata – kata dalam penutupan pidato ini
berisikan tentang ajakan penulis pada seluruh umat muslim untuk bangkit dari
keterpurukan, meyakini bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling hidup di
dunia. Tidak ada bahasa yang lebih hidup melebihi bahasa Arab. Semenjak 14 abad
yang silam, bahasa Arab sudah menjadi wadah sekaligus media kebudayaan Islam.
Maka dari itu, kita semua dituntut untuk mampu menggunakan bahasa Arab mulai dari
saat ini.
Menginjak pada
bab selanjutnya, yakni bab VIII sampai dengan bab X, didalamnya terdapat pidato
– pidato persuasive, yang isinya dapat mempengaruhi para pembaca. Pada bab VIII
menjelaskan tentang “Awas Narkoba”. Pembaca diharapkan supaya berhati – hati
dalam hal narkoba atau sejenisnya. Bab ke IX tentang “Masyarakat Islam”. Dalam
isi pidatonya, pembaca diajak untuk
senantiasa berakhlak mulia, menghiasi diri dengan akhlak yang utama, akhlak
yang luhur sesuai dengan ajaran Islam.
Bab terakhir pidato
ini bertemakan tentang “Tanggung Jawab Pemuda terhadap Masyarakat”. Pada bagian
terakhir ini merupakan tema yang sangatlah menarik bagi kita semua, khususnya
pelajar – pelajar Islam. Disini disebutkan bahwa seorang pemuda merupakan
jantung bagi masyarakat, penerus generasi masa depan. Maka pemuda haruslah
bersikap jujur dan amanah. Di tangan pemuda lah kehidupan yang sejahtera ini
akan tercipta. Kita harus aktif, kritis, dan produktif terhadap peristiwa –
peristiwa yang ada di sekitar kita.
Disamping
sepuluh pokok pembahasan diatas, penulis menambahkan beberapa kosakata yang
dicantumkan pada halaman terakhir. Hal ini dimaksudkan agar pembaca lebih mudah
dalam belajar berpidato menggunakan Tiga Bahasa. Buku ini sangat cocok untuk
kita khususnya mahasiswa jurusan PBA dan TBI, karena kehadiran buku kecil ini
dapat melatih kita untuk berbicara dengan bahasa Arab-Inggris.
Buku karya Umar
Faruq dan kawan – kawannya ini menggunakan bahasa yang sederhana dan
komunikatif, sehingga sangat mudah untuk dipahami para pembaca. Disamping
banyaknya kelebihan – kelebihan yang dimiliki buku ini, buku ini juga terdapat
kekurangan/kelemahan yang sangat menonjol. Yakni pada bagian percetakaan,
seluruh halaman pada buku ini menggunakan kertas buram, sehingga pembaca seakan
– akan kurang tertarik pada buku ini.
Terlepas dari
kelebihan dan kekurangan yang dimiliki buku ini, buku ini diterbitkan bagi siapapun
yang ingin belajar berpidato dengan bahasa asing. Terutama kawula muda yang
ingin menggali mutiara – mutiara pengetahuan dan melestarikan khazanah jawa
yang sudah mulai tergeser dari porosnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar